KONSEP SEL
1. INTRODUKSI SEL
Sel
merupakan satuan kehidupan terkecil yang menyusun tubuh makhluk hidup yang
mampu melakukan semua aktivitas kehidupan. Semua organisme terbentuk dari sel,
yaitu unit dasar dari struktur dan fungsi organisme tersebut. Robert Hooke,
seorang saintis Inggris, pertama kali menerangkan dan menamakan sel pada tahun
1665, ketika ia meneliti suatu irisan dari gabus (kulit batang dari pohon)
dengan menggunakan mikroskop yang memiliki pembesaran 30 kali. Walaupun
meyakini bahwa kotak kecil, atau ‘sel’, yang ia lihat hanya dimiliki oleh
potongan gabus tersebut. Hooke tidak pernah menyadari betapa penting
penemuannya ini.
Semua sel diselimuti oleh suatu
membran yang mengatur perjalanan materi antara sel tersebut dan lingkungan sekelilingnya.
Setiap sel, pada tahapan tertentu dalam hidupnya, mengandung DNA, yaitu materi
yang dapat diwariskan yang mengarahkan aktivitas-aktivitas sel tersebut.
2. ULTRA STRUKTUR SEL
a.
Membran
Sel
Membran sel, yang menyelubungi sel,
merupakan truktur elastik tipis, tebalnya hanya 7,5 sampai 10 nanometer.
Membrane sel ini hampir seluruhnya terdiri dari protein dan lipid. Perkiraan
komposisi adalah protein 55%, fosfolipid 25%, kolesterol 13%, lipid lain 4%,
dan karbohidrat 3%.
b.
Sitoplasma
Sitoplasma dipenuhi oleh
partikel-partikel dan organel berukuran besar dan kecil yang tersebar, berkisar
dari beberapa nanometer sampai beberapa micrometer. Sitoplasma berfungsi
sebagai tempat berlangsungnya metabolisme sel. Bagian cairan bening dari
sitoplasma yang merupakan tempat dimana partikel-partikel itu tersevar disebut
sitosol, yang terutama terdiri dari protein yang larut, elektrolit, dan
glukosa, serta sejumlah kecil senyawa lipid.
c.
Reticulum
Endoplasma
Merupakan bagian sel yang terdiri atas
sistem membrane. Reticulum endoplasma terdiri atas ruangan-ruangan kosong yang
ditutupi membrane dalam ketebalan 4nm (nanometer 10-9 meter). Pada
bagian-bagian reticulum endoplasma tertentu, terdapat ribuan ribosom.
Reticulum endoplasma terbagi menjadi
dua, yaitu:
RE
KASAR
|
RE
HALUS
|
Ditempeli ribosom
Untuk sistesis protein
|
Tidak punya ribosom
Untuk sistesis lemak
|
d.
Aparatus
Golgi
Terdiri dari 4 atau lebih tumpukan
lapisan vesikel tipis dan gepeng yang terletak dekat dengan nucleus. Apparatus
golgi berbentuk kantong pipih yang berkelok-kelok. Fungsi apparatus golgi bekerja
sama dengan reticulum endoplasma.
e.
Lisosom
Merupakan organel vesicular yang
dibentuk oleh apparatus golgiyang kemudian tersebar di seluruh sitoplasma.
Lisosom ini merupakan system pencernaan intraseluler yang memungkinkan sel
untuk mencernakan bahan-bahan dan struktur intraseluler, khususnya struktur sel
yang telah rusak.
f.
Peroksisom
Organel yang terbungkus oleh membrane
tunggal dari lipid dwilapis yang mengandung protein penyerap (respektor). Menghasilkan
enzim oksidatif untuk membentuk H2O2 untuk merombak
lemak, dan menghasilkan enzim katalase untuk mengubah H2O2 menjadi
H2O dan O2.
g.
Mitokondria
Sebagai tempat terjadinya respirasi sel
menghasilkan energy. Dengan demikian mitokondria adalah “pembangkit tenaga”
bagi sel.
h.
Nucleus
Merupakan pusat pengaturan sel. Secara
singkat, nucleus mengandung sejumlah besar DNA, yang telah kita sebut bertahun
sebagai gen. nucleus juga mengatur reproduksi.
i.
Ribosom
Butiran kecil nucleoprotein yang
tersebar di sitoplasma, ada yang melekat di reticulum endoplasma (sehingga
menjadi RE tersebut dinamakan RE Kasar). Berfungsi untuk melakukan sintesis
protein.
j.
Sitoskeleton
Sebagai pemberi bentuk sel, pengatur geraknya sel.
Sitoskeleton ini berupa jaringan protein filament dan tubulus.
3. JENIS SEL DAN FUNGSI SPESIFIK SEL
1.
Sel
Darah
a.
Sel darah merah
Fungsinya
mengikat oksigen dari paru–paru untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh dan
mengikat karbon dioksida dari jaringan tubuh untuk dikeluarkan melalui
paru–paru.
b.
Sel darah putih
Sel darah
putih ini berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi
sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh.
c.
Keping darah
Fungsi
utama adalah pembentukan sumbat mekanis selama respon hemostatik normal
terhadap luka vaskular.Selain itu punya protein stabilisasi fibrin, penggandaan
sel endotel setelah rusak, penyimpanan ion kalsium.
2. Sel Jaringan Epitel
Fungsi utamanya melindungi dan sekaligus mempunyai sifat
semipermeable.
a. Absorpsi, sel yang melakukan absorpsi mempunyai emofili
sitokleton, sel bersilia dipermukaan usus halus.
b. Sekresi (saluran keluar tapi diakai lagi,(hormon),
keringat, empedu, pencernaan, pancreas, hati. Sel sekresi : RER dan Golgi yang
banyak dihasilkan di dalam sitoplasma, empedu, hati, argumin, lambung/ stomash
fredikel.
c. Pergerakan.
d. Ekskresi (saluran keluar tapi tidak dibutuhkan lagi)
3. Fungsi Sel Jaringan Ikat
Sel-sel jaringan ikat yang menyusun jaringan ikat antara
lain adalah:
a. Fibroblast :
berfungsi untuk mensintesis protein yang menyusun serat matriks.
b. Makrofag : berfungsi
dalam hal fagositosis me”makan” sel bakteri.
c. Sel darah : berfungsi
untuk sirkulasi gas dan makanan, juga pertahanan tubuh terhadap antigen.
d. Sel tiang : berfungsi
menghasilkan histamin dan heparin. Histamin berperan dalam meningkatkan
permeabilitas membran bagi sel darah putih untuk dapat melakukan diapedesis ke
jaringan yang diserang antigen. Heparin berperan daam anti koagulan dengan
mekanisme menghambat pembentukan trombin dari protrombin.
e. Sel lemak :
berfungsi untuk menyimpan lemak.
4. Fungsi Sel Saraf
Ada tiga macam sel saraf yang dikelompokkan berdasarkan
struktur dan fungsinya, yaitu:
a. Sel saraf sensorik, adalah sel saraf yang berfungsi
menerima rangsangan dari reseptor yaitu alat indera.
b. Sel saraf motorik, adalah sel saraf yang berfungsi
mengantarkan rangsangan ke efektor yaitu otot dan kelenjar. Rangsangan yang
diantarkan berasal atau diterima dari otak dan sumsum tulang belakang.
c. Sel saraf penghubung, adalah sel saraf yang berfungsi
menghubungkan sel saraf satu dengan sel saraf lainnya.
5. Fungsi Sel Otot
a. Otot polos
Fungsi otot polos adalah menggerakkan organ dalam tubuh yang
bergerak secara tak sadar tidak bekerja pada jantung.
b. Otot lurik
Fungsi otot lurik untuk menggerakkan tulang dan melindungi
kerangka dari benturan keras.
c. Otot jantung
Fungsi otot jantung adalah untuk memompa darah ke luar
jantung.
4.
TRANSPORT TRANS MEMBRAN
A. Transpor
pasif
Transpor pasif merupakan suatu perpindahan molekul
berdasarkanperbedaan gradien konsentrasinya, yaitu molekul berpindah dari
konsentrasinya yang tinggi ke konsentrasi rendah dan tidak ada energi metabolik
yang terlibat.Transpor pasif meliputi difusi, dan difusi terfasilitasi.
a). Difusi
Difusi merupakan perpindahan senyawa dari konsentrasi
tinggi kekonsentrasi rendah dan semakin besar gradien konsentrasi senyawa
semakin cepat laju difusinya dan akan terhenti setelah tercapai kesetimbangan
gradient. Molekul polar hidrofobik merupakan molekul yang lebih cepat berdifusi
melintasi bilayer fosfolipid misalnya diethylurea, Demikian pula molekul non
polar misalnya O2 dan molekul polar yang tidak bermuatan misalnya CO2.
b). Difusi
terfasilitasi
Difusi ini difasilitasi oleh protein yang tersusun
dalam bentuk saluran (protein trans membran) dan carrier protein yang merupakan
protein pembawa. Difusi melalui protein transmembran sering digunakan oleh
sel-sel syaraf untuk perpindahan ion Na+ dan K+serta ion-ion seperti
ClCa2+danHCO3-.
5.
REPRODUKSI SEL
Sel merupakan bagian terkecil yang menyusun tubuh kita. Setiap sel dapat
memperbanyak diri dengan membentuk sel-sel baru melalui proses yang disebut
pembelahan sel atau reproduksi sel . Pada organ-isme bersel satu (uniseluler),
seperti bakteri dan protozoa, proses pem-belahan sel merupakan salah satu cara
untuk berkembang biak. Proto-zoa melakukan pembelahan sel dari satu sel menjadi
dua, dari dua sel menjadi empat, dan dari empat sel menjadi delapan, dan
seterusnya.
Pada makhluk hidup bersel banyak (multiseluler), pembelahan sel
mengakibatkan bertambahnya sel-sel tubuh. Oleh karena itu, terjadi-lah proses
pertumbuhan pada makhluk hidup. Pembelahan sel juga berlangsung pada sel
kelamin atau sel gamet yang bertanggung jawab dalam proses perkawinan antar
individu. Setelah dewasa, sel kelenjar kelamin pada tubuh manusia membelah
membentuk sel-sel kelamin.
Seorang laki-laki menghasilkan sperma di dalam testis, sedangkan
wanita menghasilkan sel telur atau ovum di dalam ovarium.Pada dasarnya,
pembelahan sel dibedakan menjadi dua, yaitu pembelahan secara langsung
(amitosis) dan pembelahan secara tidak langsung (mitosis dan meiosis).
1. Pembelahan Sel secara Langsung (Amitosis)
Perbedaan antara organisme prokariotik dan eukariotik, terutama berdasarkan
pada ada tidaknya membran inti selnya. Membran inti sel tersebut membatasi
cairan pada inti sel (nukleoplasma) dengan cairan di luar inti sel, tempat
terdapatnya organel sel (sitoplasma). Organisme prokariotik tidak mempunyai
membran inti sel, sedangkan organisme eukariotik mempunyai membran inti sel.
Oleh karena itu, eukariotik dikatakan mempunyai inti sel (nukleus)
sejati.Pembelahan biner pada organisme prokariotik terjadi pada bakteri. DNA
bakteri terdapat pada daerah yang disebut nukleoid .DNA pada bakteri relatif
lebih kecil dibandingkan dengan DNA pada sel eukariotik. DNA pada bakteri
berbentuk tunggal, panjang dan sirkuler sehingga tidak perlu dikemas menjadi
kromosom sebelum pembelahan.
2. Pembelahan Sel secara Tidak Langsung (Mitosis dan Meiosis)
Pembelahan sel secara tidak langsung adalah pembelahan yang melalui
tahapan-tahapan tertentu. Setiap tahapan pembelahan ditandai dengan penampakan
kromosom yang berbeda-beda. Kalian telah mengetahui bahwa di dalam inti sel
terdapat benang-benang kromatin . Ketika sel akan membelah, benang-benang
kromatin ini menebal dan memendek, yang kemudian disebut kromosom.
Kromosom dapat berikatan dengan warna tertentu, sehingga mudah diamati
dengan mikroskop. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kromosom merupakan benang
pembawa sifat. Di dalam kromosom terdapat gen sebagai faktor pembawa sifat
keturunan.
Pada waktu sel sedang membelah, terjadi proses pembagian kromosom di
dalamnya. Tingkah laku kromosom selama sel membelah dibedakan menjadi fase-fase
atau tahap-tahap pembelahan sel. Pembelahan sel yang terjadi melalui fase-fase
itulah yang disebut pembelahan secara tidak langsung. Mengenai fase-fase
pembelahan mitosis akan dibahas pada subab tersendiri.
Pembelahan sel secara tidak langsung dibedakan menjadi dua, yaitu
pembelahan mitosis dan meiosis . Sebelum kalian mempelajari lebih jauh tentang
pembelahan sel secara tidak langsung, ada baiknya kalian lakukan rubrik Diskusi
berikut ini.Proses pertumbuhan dan perkembangan jaringan atau organ tu-buh
organisme terjadi melalui proses pembelahan sel secara mitosis. Pembelahan
mitosis adalah pembelahan sel yang menghasilkan sel anakan dengan jumlah
kromosom sama dengan jumlah kromosom induknya. Proses pembelahan mitosis
terjadi pada semua sel tubuh makhluk hidup, kecuali pada jaringan yang
menghasilkan gamet (sel kelamin).
Pada pembelahan mitosis, satu sel induk membelah diri menjadi dua sel
anakan. Sel anakan ini mewarisi sifat sel induknya dan memiliki jumlah kromosom
yang sama dengan induknya. Jika sel induk memi-liki 2n kromosom, maka setiap
sel anakan juga memiliki 2n kromo-som. Jumlah 2n ini disebut juga kromosom
diploid .
Pembelahan mitosis terjadi selama pertumbuhan dan reproduksi secara
aseksual. Pada manusia dan hewan, pembelahan mitosis terjadi pada sel meristem
somatik (sel tubuh) muda yang mengalami pertum-buhan dan perkembangan. Sebagai
contoh, sel telur yang telah dibuahisperma akan membelah beberapa kali
secara mitosis untuk membentuk embrio. Sel-sel pada embrio ini terus-menerus
membelah secara mitosis dan akhirnya terbentuk bayi. Pertumbuhan manusia dari
bayi hingga dewasa juga melalui mekanisme pembelahan sel secara mitosis.
Pembelahan meiosis yang disebut juga sebagai pembelahan reduksi merupakan
pembelahan sel induk dengan jumlah kromosom diploid (2n) menghasilkan empat sel
anakan. Setiap sel anakan mengandung separuh kromosom sel induk atau disebut
haploid ( n). Pembelahan meiosis terjadi pada proses pembentukan sel gamet (sel
kelamin) pada organ reproduksi (testis atau ovarium).
Pada manusia atau hewan, sperma yang haploid dihasilkan di dalam
testis dan sel telur yang juga haploid dihasilkan di dalam ovarium. Pada
tumbuhan berbunga, sel gamet dihasilkan di dalam putik dan benang sari.
Pembentukan gamet jantan dan gamet betina terjadi melalui tahapan
gametogenensis (dibahas pada subbab tersendiri). Penyatuan kedua gamet akan
menghasilkan zigot dengan variasi genetik. Ini disebabkan karena sel anakan
merupakan hasil penyatuan dua sel yang berbeda materi genetiknya. Perpaduan ini
menyebabkan adanya variasi genetik.
2.1
Pembelahan Mitosis
Kalian telah mengetahui bahwa pembelahan mitosis menghasil-kan sel anakan yang identik dengan induknya. Secara garis besar, fase pembelahan mitosis terbagi menjadi dua fase, yaitu fase pembelahan inti (kariokinesis) dan fase pembelahan sitoplasma (sitokinesis).Kariokinesis adalah fase pembelahan inti sel. Secara rinci, fase kariokinesis dibagi menjadi empat subfase, yaitu profase, metafase, anafase, dan telofase. Sekarang, marilah kita bahas keempat subfase tersebut.
a.Profase
Pada permulaan profase, di dalam nukleus mulai terbentuk kro-mosom , yaitu benang-benang rapat dan padat yang terbentuk akibat menggulungnya kromatin. Pada fase ini, kromosom dapat dilihat menggunakan mikroskop. Selanjutnya, nukleolus menghilang dan terjadi duplikasi kromosom (kromosom membelah dan memanjang) menghasilkan 2 kromosom anakan yang disebut kromatid. Kedua kromatid tersebut bersifat identik sehingga disebut kromatid kembar (sister chromatid), yang bersatu atau dihubungkan oleh sentromer pada lekukan kromosom. Sentromer merupakan bagian kromosom yang menyempit, tampak lebih terang dan membagi kromosom menjadi 2 lengan.Pada akhir profase, di dalam sitoplasma mulai terbentuk gelendong pembelahan (spindel) yang berasal dari mikrotubulus. Mikrotubulus tersebut memanjang, seolah-olah mendorong dua sentrosom di sepanjang permukaan inti sel (nukleus). Akibatnya, sentrosom saling menjauh.
Pada permulaan profase, di dalam nukleus mulai terbentuk kro-mosom , yaitu benang-benang rapat dan padat yang terbentuk akibat menggulungnya kromatin. Pada fase ini, kromosom dapat dilihat menggunakan mikroskop. Selanjutnya, nukleolus menghilang dan terjadi duplikasi kromosom (kromosom membelah dan memanjang) menghasilkan 2 kromosom anakan yang disebut kromatid. Kedua kromatid tersebut bersifat identik sehingga disebut kromatid kembar (sister chromatid), yang bersatu atau dihubungkan oleh sentromer pada lekukan kromosom. Sentromer merupakan bagian kromosom yang menyempit, tampak lebih terang dan membagi kromosom menjadi 2 lengan.Pada akhir profase, di dalam sitoplasma mulai terbentuk gelendong pembelahan (spindel) yang berasal dari mikrotubulus. Mikrotubulus tersebut memanjang, seolah-olah mendorong dua sentrosom di sepanjang permukaan inti sel (nukleus). Akibatnya, sentrosom saling menjauh.
b.Metafase
Tahap awal metafase (prometafase) ditandai dengan semakin memadatnya kromosom (kromosom ini terdiri dari 2 kromatid) dan terpecahnya membran inti (membran nukleus). Hal ini menyebab-kan mikrotubulus dapat menembus inti sel dan melekat pada struktur khusus di daerah sentromer setiap kromatid, disebut kinetokor . Oleh karena itu, kinetokor ini berfungsi sebagai tempat bergantung bagi kromosom Sebagian mikrotubulus yang melekat pada kinetokor disebut mikro-tubulus kinetokor, sedangkan mikrotubulus yang tidak memperoleh kinetokor disebut mikrotubulus non kinetokor. Sementara itu, mikrotubulus non kinetokor berinteraksi dengan mikrotubulus lain dari kutub sel yang berlawanan. Pada metafase, kromosom tampak jelas.
Tahap awal metafase (prometafase) ditandai dengan semakin memadatnya kromosom (kromosom ini terdiri dari 2 kromatid) dan terpecahnya membran inti (membran nukleus). Hal ini menyebab-kan mikrotubulus dapat menembus inti sel dan melekat pada struktur khusus di daerah sentromer setiap kromatid, disebut kinetokor . Oleh karena itu, kinetokor ini berfungsi sebagai tempat bergantung bagi kromosom Sebagian mikrotubulus yang melekat pada kinetokor disebut mikro-tubulus kinetokor, sedangkan mikrotubulus yang tidak memperoleh kinetokor disebut mikrotubulus non kinetokor. Sementara itu, mikrotubulus non kinetokor berinteraksi dengan mikrotubulus lain dari kutub sel yang berlawanan. Pada metafase, kromosom tampak jelas.
Pada tahap metafase sesungguhnya, sentrosom telah berada pada kutub sel.
Dinding inti sel menghilang. Sementara itu, kromosom me-nempatkan diri pada
bidang pembelahan yang disebut bidang metafase. Bidang ini merupakan bidang
khayal yang terletak tepat di tengah sel, seperti garis katulistiwa bumi
sehingga disebut juga bidang ekuator. Pada bidang ini, sentromer dari seluruh
kromosom terletak pada satu baris yang tegak lurus dengan gelendong pembelahan.
Kinetokor pada setiap kromatid menghadap pada kutub yang berlainan. Dengan
letak kromosom berada di bidang pembelahan, maka pembagian jumlah informasi DNA
yang akan diberikan kepada sel anakan yang baru, benar-benar rata dan sama
jumlahnya. Tahapan ini merupakan akhir dari metafase.
c.Anafase
Setelah berakhirnya tahap metafase, pembelahan sel berlanjut pada tahap anafase. Tahap anafase ditandai dengan berpisahnya kromatid saudara pada bagian sentromer kromosom. Gerak kromatid ini disebabkan tarikan benang mikrotubulus yang berasal dari sentriol pada kutub sel. Kalian telah mengetahui bahwa mikrotubulus melekat pada sentromer. Hal ini menyebabkan sentromer tertarik terlebih dahulu. Akibatnya, sentromer berada di depan dan bagian lengan kromatid berada di belakang. Struktur ini seperti huruf V. Gerakan ini menempuh jarak sekitar 1μm (10-6 meter) tiap menit. Pada saat bersamaan, mikrotubulus non kinetokor semakin memanjang sehingga jarak kedua kutub sel semakin jauh. Selanjutnya, masing-masing kromatid bergerak ke arah kutub yang berlawanan dan berfungsi sebagai kromosom lengkap, dengan sifat keturunan yang sama (identik). Untuk menjalankan tugasnya ini, mikrotubulus telah mengalami peruraian pada bagian kinetokornya.
Setelah berakhirnya tahap metafase, pembelahan sel berlanjut pada tahap anafase. Tahap anafase ditandai dengan berpisahnya kromatid saudara pada bagian sentromer kromosom. Gerak kromatid ini disebabkan tarikan benang mikrotubulus yang berasal dari sentriol pada kutub sel. Kalian telah mengetahui bahwa mikrotubulus melekat pada sentromer. Hal ini menyebabkan sentromer tertarik terlebih dahulu. Akibatnya, sentromer berada di depan dan bagian lengan kromatid berada di belakang. Struktur ini seperti huruf V. Gerakan ini menempuh jarak sekitar 1μm (10-6 meter) tiap menit. Pada saat bersamaan, mikrotubulus non kinetokor semakin memanjang sehingga jarak kedua kutub sel semakin jauh. Selanjutnya, masing-masing kromatid bergerak ke arah kutub yang berlawanan dan berfungsi sebagai kromosom lengkap, dengan sifat keturunan yang sama (identik). Untuk menjalankan tugasnya ini, mikrotubulus telah mengalami peruraian pada bagian kinetokornya.
Salah satu perbedaan sel tumbuhan dan sel
hewan adalah ada tidaknya sentriol. Pada sel tumbuhan, peran sentriol
digantikan oleh kromosom sehingga arah pembelahan tetap menuju ke kutub sel.
Pada sel hewan, sentriol pada kutub sel merupakan arah yang dituju oleh gerakan
kromatid saat pembelahan.
d.Telofase
Pada tahap telofase ini, inti sel anakan terbentuk kembali dari fragmen-fragmen nukleus. Bentuk selnya memanjang akibat peran mikrotubulus non kinetokor. Benang-benang kromatin mulai longgar. Dengan demikian, fase kariokinesis yang menghasilkan dua inti sel anak yang identik secara genetik telah berakhir, namun dua inti sel masih berada dalam satu sel. Agar kedua inti terpisah menjadi sel baru, perlu adanya pembelahan sitoplasma yang disebut sitokinesis. Sitokinesis terjadi, segera setelah telofase selesai. Pada fase sitokinesis terjadi pembelahan sitoplasma diikuti pembentukan sekat sel baru, sehingga terbentuk dua sel anakan.
Pada tahap telofase ini, inti sel anakan terbentuk kembali dari fragmen-fragmen nukleus. Bentuk selnya memanjang akibat peran mikrotubulus non kinetokor. Benang-benang kromatin mulai longgar. Dengan demikian, fase kariokinesis yang menghasilkan dua inti sel anak yang identik secara genetik telah berakhir, namun dua inti sel masih berada dalam satu sel. Agar kedua inti terpisah menjadi sel baru, perlu adanya pembelahan sitoplasma yang disebut sitokinesis. Sitokinesis terjadi, segera setelah telofase selesai. Pada fase sitokinesis terjadi pembelahan sitoplasma diikuti pembentukan sekat sel baru, sehingga terbentuk dua sel anakan.
Pada sel hewan, sitokinesis ditandai
dengan pembentukan alur pembelahan melalui pelekukan permukaan sel di sekitar
bekas bidang ekuator. Di sepanjang alur melingkar, terdapat mikrofi lamen yang
terdiri dari protein aktin dan miosin. Protein tersebut berperan dalam
kontraksi otot atau pergerakan sel yang lain. Kontraksi ini semakin ke dalam
sehingga menjepit sel dan membagi isi sel menjadi 2 bagian yang sama.
Berbeda dengan sel hewan, sel tumbuhan
mempunyai dinding sel yang keras. Oleh karena itu, pada sitokinensis tidak
terbentuk alur pembelahan. Sitokinesis terjadi dengan pembentukan pelat
sel (cell plate) yang terbentuk oleh vesikula di sekitar bidang ekuator.
Vesikula-vesikula yang dibentuk oleh badan golgi tersebut saling bergabung.
Penggabungan juga terjadi dengan membran plasma diikuti terbentuknya dinding
sel yang baru oleh materi dinding sel yang dibawa oleh vesikula.
Tahapan Pembelahan Mitosis
Pembelahan sel secara mitosis meliputi sejumlah tahapan tertentu. Sebenarnya, pembelahan mitosis hanyalah sebagian kecil dari siklus sel. Siklus sel terdiri dari fase pembelahan mitosis (M) dan periode pertumbuhan yang disebut interfase. Interfase merupakan bagian ter-besar dari siklus sel. Interfase terdiri dari tiga sub fase, yaitu fase G1 (pertumbuhan primer), fase S (sintesis) , dan fase G2 (pertumbuhan sekunder ).
Pembelahan mitosis merupakan
pembelahan yang menghasil-kan sel-sel tubuh (sel somatik). Secara garis besar,
pembelahan sel secara mitosis terdiri dari fase istirahat (interfase),
fase pembelahaninti sel (kariokinesis), dan fase pembelahan sitoplasma
(sitokinesis).
1.
Interfase (Fase Istirahat)
Pada tahap ini, sel dianggap sedang
istirahat dan tidak melaku-kan pembelahan. Namun, interfase merupakan tahap
yang penting untuk mempersiapkan pembelahan atau melakukan metabolisme sel.
Pada interfase, tingkah laku kromosom tidak tampak karena berbentuk
benang-benang kromatin yang halus. Walaupun begitu, sel anak yang baru
terbentuk sudah melakukan metabolisme. Sel perlu tumbuh dan melakukan berbagai
sintesis sebelum memasuki proses pembelahan berikutnya.Apa saja kegiatan sel pada
saat interfase? Pada saat interfase, sel mengalami subfase berikut.
a. Fase
Pertumbuhan Primer ( Growth 1 disingkat G1 )
Sel yang baru terbentuk mengalami
pertumbuhan tahap pertama. Pada subfase ini, sel-sel belum mengadakan replikasi
DNA yang masih bersifat 2n (diploid). Sementara organel-organel yang ada di
dalam sel, seperti mitokondria, retikulum endoplasma, kompleks golgi, dan
or-ganel lainnya memperbanyak diri guna menunjang kehidupan sel.
b. Fase
Sintesis (S)
Pada subfase ini, sel melakukan sintesis
materi genetik. Materi ge-netik adalah bahan-bahan yang akan diwariskan kepada
keturunannya, yaitu DNA. DNA dalam inti sel mengalami replikasi (penggandaan
jumlah salinan). Jadi, subfase sintesis (penyusunan) menghasilkan 2 salinan
DNA.
c. Fase Pertumbuhan
Sekunder ( Growth 2 disingkat G2 )
Setelah DNA mengalami replikasi, subfase
berikutnya adalah per-tumbuhan sekunder (G2). Pada subfase ini, sel
memperbanyak organel-organel yang dimilikinya. Ini bertujuan agar
organel-organel tersebut dapat diwariskan kepada setiap sel turunannya. Pada
subfase ini, rep-likasi DNA telah selesai dan sel bersiap-siap mengadakan
pembelahan secara mitosis. Selain itu, inti sel (nukleus) telah terbentuk
dengan jelas dan terbungkus membran inti.
Pada subfase ini, inti sel mempunyai satu
atau lebih nukleolus (membran inti sel). Di luar inti terdapat dua sentrosom
yang terbentuk oleh replikasi sentrosom pada tahap sebelumnya. Sentrosom
mengala-mi perpanjangan menyebar secara radial yang isebut aster (bintang).
Pada sentrosom terdapat sepasang sentriol yang berfungsi menentukan orientasi
pembelahan sel. Walaupun kromosom telah diduplikasi pada fase S, namun pada
fase G2, kromosom belum dapat dibedakan secara individual karena masih berupa
benang-benang kromatin.
Setelah ketiga tahapan interfase dilalui,
sel telah siap menjalani pembelahan secara mitosis. Seperti fase interfase,
pembelahan mitosis juga terdiri dari beberapa fase. Untuk mengetahui lebih jauh
tentang fase-fase pada pembelahan mitosis, simaklah penjelasan berikut.
2.2 Pembelahan
Meiosis
Secara kodrat, makhluk hidup tertentu
hanya melahirkan makhluk yang sejenis. Ini dikarenakan adanya mekanisme
tertentu pada saat awal perkembangbiakan. Bahkan, sebelum terbentuk calon anak
di dalam rahim, mekanisme ini sudah dimulai. Mekanisme ini dimulai pada sel-sel
kelamin (sel reproduksi) calon bapak dan calon ibu. Mekanisme tersebut adalah
pembelahan sel secara meiosis.
Makhluk hidup yang sejenis mempunyai jumlah kromosom yang sama pada setiap
sel. Misalnya, manusia mempunyai 46 kromosom, ke-cuali pada sel reproduksi atau
sel kelaminnya. Sel kelamin pada manusia hanya mempunyai setengah jumlah
kromosom sel tubuh lainnya, yaitu 23 kromosom. Jumlah setengah kromosom
(haploid) ini diperlukan untuk menjaga agar jumlah kromosom anak tetap 46.
Kalian telah mengetahui bahwa anak terbentuk dari perpaduan antara sel kelamin
betina (sel telur) dan sel kelamin jantan (sperma). Perpadu an kedua sel
kelamin yang ma-sing-masing memiliki 23 kromosom ini akan menghasilkan sel anak
(calon janin) yang mempunyai 46 kromosom. Oleh sebab itu, pembelahan meiosis
sangat berpengaruh dalam perkembang an makhluk hidup.
Pembelahan meiosis disebut juga pembelahan reduksi, yaitu pengurangan
jumlah kromosom pada sel-sel kelamin (sel gamet jantan dan sel gamet betina).
Sel gamet jantan pada hewan (mamalia) diben-tuk di dalam testis dan gamet
betinanya dibentuk di dalam ovarium. Gamet jantan pada tumbuhan dibentuk di
dalam organ reproduktif berupa benang sari, sedangkan gamet betinanya dibentuk
di dalam pu-tik. Sel kelamin betina pada hewan berupa sel telur, sedangkan pada
tumbuhan berupa putik. Pada dasarnya, tahap pembelahan meiosis serupa dengan
pembelahan mitosis. Hanya saja, pada meiosis terjadi dua kali pembelahan, yaitu
meiosis I dan meiosis II.
Masing-masing pembelahan meiosis terdiri dari tahap-tahap yang sama, yaitu
profase, metafase, anafase, dan telofase.
1). Tahap
Meiosis I
Seperti halnya pembelahan mitosis, sebelum mengalami pembe-lahan meiosis,
sel kelamin perlu mempersiapkan diri. Fase persiapan ini disebut tahap
interfase . Pada tahap ini, sel melakukan persiapan berupa penggandaan DNA dari
satu salinan menjadi dua salinan (seperti interfase pada mitosis). Tingkah laku
kromosom masih belum jelas terlihat karena masih berbentuk benang-benang halus
(kromatin) sebagaimana interfase pada mitosis. Selain itu, sentrosom juga
bereplikasi menjadi dua (masing-masing dengan 2 sentriol), seperti tampak pada
gambar di samping. Sentriol berperan dalam menentu-kan arah pembelahan sel.
Setelah terbentuk salinan DNA,
barulah sel mengalami tahap pembelahan meiosis I yang diikuti tahap meiosis II.
Tahap meiosis I ter-diri atas profase I, metafase I, anafase I, dan telofase I,
serta sitokinesis I. Bagaimanakah ciri-ciri setiap fase pembelahan tersebut?
Berikut akan dibahas fase-fase meiosis I pada sel hewan dengan 4 kromosom
diploid (2n = 2).
a.ProfaseI
Pada tahap meiosis I, profase I merupakan fase terpanjang atau terlama dibandingkan fase lainnya bahkan lebih lama daripada tahap profase pada pembelahan mitosis. Profase I dapat berlangsung dalam beberapa hari. Biasanya, profase I membutuhkan waktu sekitar 90% dari keseluruhan waktu yang dibutuhkan dalam pembelahan meiosis. Tahapan ini terdiri dari lima subfase, yaitu leptoten, zigoten, pakiten, iploten, dan diakinesis.
Pada tahap meiosis I, profase I merupakan fase terpanjang atau terlama dibandingkan fase lainnya bahkan lebih lama daripada tahap profase pada pembelahan mitosis. Profase I dapat berlangsung dalam beberapa hari. Biasanya, profase I membutuhkan waktu sekitar 90% dari keseluruhan waktu yang dibutuhkan dalam pembelahan meiosis. Tahapan ini terdiri dari lima subfase, yaitu leptoten, zigoten, pakiten, iploten, dan diakinesis.
b.MetafaseI
Pada metafase I, kromatid hasil duplikasi kromosom homolog berjajar berhadap-hadapan di sepanjang daerah ekuatorial inti (bidang metafase I). Membran inti mulai menghilang. Mikrotubulus kinetokor dari salah satu kutub melekat pada satu kromosom di setiap pasangan. Sementara mikrotubulus dari kutub berlawanan melekat pada pasang-an homolognya. Dalam hal ini, kromosom masih bersifat diploid.
Pada metafase I, kromatid hasil duplikasi kromosom homolog berjajar berhadap-hadapan di sepanjang daerah ekuatorial inti (bidang metafase I). Membran inti mulai menghilang. Mikrotubulus kinetokor dari salah satu kutub melekat pada satu kromosom di setiap pasangan. Sementara mikrotubulus dari kutub berlawanan melekat pada pasang-an homolognya. Dalam hal ini, kromosom masih bersifat diploid.
c.AnafaseI
Setelah tahap metafase I selesai, gelendong mikrotubulus mulai menarik kromosom homolog sehingga pasangan kromosom homolog terpisah dan masing-masing menuju ke kutub yang berlawanan. Peristiwa ini mengawali tahap anafase I. Namun, kromatid saudara masih terikat pada sentromernya dan bergerak sebagai satu unit tunggal. Inilah perbedaan antara anafase pada mitosis dan meiosis. Pada mitosis, mikrotubulus memisahkan kromatid yang bergerak ke arah berlawanan.
Setelah tahap metafase I selesai, gelendong mikrotubulus mulai menarik kromosom homolog sehingga pasangan kromosom homolog terpisah dan masing-masing menuju ke kutub yang berlawanan. Peristiwa ini mengawali tahap anafase I. Namun, kromatid saudara masih terikat pada sentromernya dan bergerak sebagai satu unit tunggal. Inilah perbedaan antara anafase pada mitosis dan meiosis. Pada mitosis, mikrotubulus memisahkan kromatid yang bergerak ke arah berlawanan.
d.TelofaseI
Pada telofase, setiap kromosom homolog telah mencapai kutub-kutub yang berlawanan. Ini berarti setiap kutub mempunyai satu set kromosom haploid. Akan tetapi, setiap kromosom tetap mempunyai dua kromatid kembar. Pada fase ini, membran inti muncul kembali. Peristiwa ini kemudian diikuti tahap selanjutnya, yaitu sitokinesis
Pada telofase, setiap kromosom homolog telah mencapai kutub-kutub yang berlawanan. Ini berarti setiap kutub mempunyai satu set kromosom haploid. Akan tetapi, setiap kromosom tetap mempunyai dua kromatid kembar. Pada fase ini, membran inti muncul kembali. Peristiwa ini kemudian diikuti tahap selanjutnya, yaitu sitokinesis
e.Sitokinesis
Sitokinesis merupakan proses pembelahan sitoplasma. Tahap sitokinesis terjadi secara simultan dengan telofase. Artinya, terjadi secara bersama-sama. Tahap ini merupakan tahap di antara dua pembelahan meiosis. Alur pembelahan atau pelat sel mulai terbentuk . Pada tahap ini tidak terjadi perbanyakan (replikasi) DNA. Hasil pembelahan meiosis I menghasilkan dua sel haploid yang mengandung setengah jumlah kromosom homolog. Meskipun demiki-an, kromosom tersebut masih berupa kromatid saudara (kandungan DNA-nya masih rangkap). Untuk menghasilkan sel anakan yang mem-punyai kromosom haploid diperlukan proses pembelahan selanjutnya, yaitu meiosis II. Jarak waktu antara meiosis I dengan meiosis II disebut dengan interkinesis .
Sitokinesis merupakan proses pembelahan sitoplasma. Tahap sitokinesis terjadi secara simultan dengan telofase. Artinya, terjadi secara bersama-sama. Tahap ini merupakan tahap di antara dua pembelahan meiosis. Alur pembelahan atau pelat sel mulai terbentuk . Pada tahap ini tidak terjadi perbanyakan (replikasi) DNA. Hasil pembelahan meiosis I menghasilkan dua sel haploid yang mengandung setengah jumlah kromosom homolog. Meskipun demiki-an, kromosom tersebut masih berupa kromatid saudara (kandungan DNA-nya masih rangkap). Untuk menghasilkan sel anakan yang mem-punyai kromosom haploid diperlukan proses pembelahan selanjutnya, yaitu meiosis II. Jarak waktu antara meiosis I dengan meiosis II disebut dengan interkinesis .
Jadi, tujuan meiosis II adalah
membagi kedua salinan DNA pada sel anakan yang baru hasil dari meiosis I.
Meiosis II terjadi pada ta-hap-tahap yang serupa seperti meiosis I.
2)
Tahap Meiosis II
Tahap meiosis II juga terdiri dari profase, metafase, anafase, dan telo-fase. Tahap ini merupakan kelanjutan dari tahap meiosis I. Masing-masing sel anakan hasil pembelahan meiosis I akan membelah lagi menjadi dua. Sehingga, ketika pembelahan meiosis telah sempurna, dihasilkan empat sel anakan. Hal yang perlu diingat adalah bahwa jumlah kromo-som keempat sel anakan ini tidak lagi diploid (2n) tetapi sudah haploid (n). Proses pengurangan jumlah kromosom ini terjadi pada tahap meio-sis II.
a.ProfaseII
Fase pertama pada tahap pembelahan meiosis II adalah profase II. Pada fase
ini, kromatid saudara pada setiap sel anakan masih melekat pada sentromer
kromosom. Sementara itu, benang mi-krotubulus mulai terbentuk dan kromosom
mulai bergerak ke arah bidang metafase. Tahap ini terjadi dalam waktu yang
singkat karena diikuti tahap berikutnya.
b.Metafase
II
Pada metafase II, setiap kromosom yang berisi dua kromatid, me-rentang atau
berjajar pada bidang metafase II. Pada tahap ini, benang-benang spindel (benang
mikrotubulus) melekat pada kinetokor masing-masing kromatid.
c. Anafase
II
Fase ini mudah dikenali karena benang spindel mulai menarik kromatid menuju
ke kutub pembelahan yang berlawanan. Akibatnya, kromosom memisahkan kedua
kromatidnya untuk bergerak menuju kutub yang berbeda. Kromatid yang terpisah
ini se-lanjutnya berfungsi sebagai kromosom individual.
d. Telofase
II
Pada telofase II, kromatid yang telah menjadi kromosom menca-pai kutub
pembelahan. Hasil akhir telofase II adalah terbentuknya 4 sel haploid, lengkap
dengan satu salinan DNA pada inti selnya (nuklei).
e.
Sitokinesis II
Selama telofase II, terjadi pula sitokinesis II, ditandai adanya sekat sel
yang memisahkan tiap inti sel. Akhirnya terbentuk 4 sel kembar yang haploid.
Berdasarkan uraian di depan, sel-sel anakan sebagai hasil pembelahan meiosis
mempunyai sifat genetis yang bervariasi satu sama lain. Variasi genetis yang
dibawa sel kelamin orang tua menyebabkan munculnya keturunan yang bervariasi
juga.
A. Gametogenesis
dan Pewarisan Sifat
Sebelum menjadi individu baru, baik pada tumbuhan maupun hewan, tentunya diperlukan bahan baku atau cikal bakal pembentuk in-dividu baru tersebut. Pada proses perkembangbiakan generatif (seksu-al) hewan maupun tumbuhan, bahan baku tersebut berupa sel kelamin yang disebut gamet. Gamet jantan dan betina diperlukan untuk membentuk zigot, embrio, kemudian individu baru. Nah, pada materi beri-kut ini akan dibahas tentang proses pembentukan gamet, baik jantan maupun betina yang disebut gametogenesis (genesis=pembentukan). Gametogenesis melibatkan pembelahan meiosis dan terjadi pada organ reproduktif. Pada hewan dan manusia, gametogenesis terjadi pada testis dan ovarium, sedangkan pada tumbuhan terjadi pada putik dan benang sari. Hasil gametogenesis adalah sel-sel kelamin, yaitu gamet jantan (sperma) dan gamet betina (ovum atau sel telur).
6. GEN
Gen adalah bagian dari kromosom atau salah satu kesatuan kimia (DNA) dalam
kromosom yaitu dalam lokus yang mengendalikan ciri-ciri genetis dari suatu
makhluk hidup. Gen diturunkan atau diwariskan oleh satu individu kepada
keturunannya, yaitu melalui suatu proses reproduksi. Oleh karena itu, informasi
yang menjaga keutuhan bentuk serta fungsi kehidupan suatu organisme dapat
terpelihara/terjaga. Gen terdapat berpasangan dalam satu lokus pada kromosom
homolog. Dari masing-masing gen dalam pasangan tersebut disebut dengan alel.
Kedua alel dapat membawa ciri sifat yang sama ataupun sifat yang berbeda,
seperti misalnya sifat tangkai panjang dan tangkai pendek.
Berikut ini fungsi gen
dan sifat gen
Gen-gen merupakan
substansi hereditas, yang memiliki fungsi seperti berikut ini:
·
Menyampaikan informasi mengenai genetika
dari generasi ke generasi.
·
Mengontrol, mengatur metabolisme dan
perkembangan tubuh.
·
Menentukan sifat-sifat pada
keturunannya. Seperti yang dicontohkan pada fakta di depan. Sifat-sifat itu
dapat berupa bentuk rambut, bentuk badan, warna kulit dan lain sebagainya.
·
Proses reaksi kimia di dalam tubuh dapat
terjadi secara berurutan. Pada setiap tahap reaksinya dibutuhkan enzim.
Pembentukan dan juga pengontrolan kerja enzim tersebut dilakukan oleh gen. Pada
proses perkembangan yang membutuhkan hormon juga diatur oleh gen.
Gambaran gen
Gen yang menampakkan
senyawa kimia merupakan substansi hereditas, memiliki sifat sebagai berikut
dibawah ini:
·
Mengandung informasi genetik.
·
Tiap gen memiliki tugas dan fungsi yang berbeda-beda.
·
Ketika waktu pembelahan mitosis dan
meiosis dapat mengadakan duplikasi.
·
Sifat gen yang ke empat, kerjanya
ditentukan oleh susunan kombinasi basa nitrogennya.
·
Dan sebagai zarah yang terdapat di dalam
kromosom.
7. HOMEOSTASIS
Homeostasis
adalah suatu kondisi keseimbangan internal yang ideal, di mana semua sistem
tubuh bekerja dan berinteraksi dalam cara yang tepat untuk memenuhi semua
kebutuhan dari tubuh. Semua organisme hidup berusaha untuk homeostasis. Ketika
homeostasis terganggu (misalnya sebagai respon terhadap stressor), tubuh
mencoba untuk mengembalikannya dengan menyesuaikan satu atau lebih proses
fisiologis dari mulai pelepasan hormon-hormon sampai reaksi fisik seperti
berkeringat atau terengah-engah. Sebagai contoh sederhana dari homeostasis,
tubuh manusia menggunakan beberapa proses untuk mengatur suhu agar tetap dalam
rentang yang optimal untuk kesehatan. Kenaikan atau penurunan suhu tubuh
mencerminkan ketidakmampuan untuk mempertahankan homeostasis, dan masalah
terkait.
Stres berat atau
lama dapat menyebabkan ketidakseimbangan parah kondisi keseimbangan ini. Hal
ini dapat menyebabkan tidak hanya tekanan psikologis tetapi juga gangguan
psikosomatis.
Terdapat
sebelas sistem tubuh utama yang berkontribusi terpenting dalam untuk
homeostasis
1.
Sistem sirkulasi adalah sistem transportasi
yang membawa berbagai zat.
2.
Sistem pencernaan, menguraikan makanan menjadi
molekul-molekul kecil zat gizi yang dapat diserap kedalam plasma untuk
didistribusikan keseluruhtubuh.
3.
Sistem respirasi, mengambil O2 dari
dan mengeluarkan CO2 ke lingkunganeksternal.
4.
Sistem kemih, mengeluarkan kelebihan garam, air,
dan elektrolit lain dariplasma melalui urin, bersama zat-zat sisa selain CO2.
5.
Sistem rangka, memberi penunjang dan proteksi
bagi jaringan lunak dan organ organ.
Sistem ini juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan kalsium(Ca++).
6.
Sistem otot, menggerakan tulang-tulang yang
melekat kepadanya.Sistem ini memungkinkan individu mendekati makanan dan
menjauhi bahaya.Panas yang dihasilkan oleh kontraksi otot penting untuk
mengatur suhu.
7.
Sistem integumen, sebagai sawar protektif bagian luar
yang mencegah cairan internal keluar dari tubuh dan mikroorganisme asing masuk
ke dalam tubuh.Sistem ini juga penting dalam mengatur suhu tubuh.
8.
Sistem imun, mempertahankan tubuh dari serangan
benda asing dan sel-sel tubuh yang telah menjadi kanker. Sistem ini juga
mempermudah jalan untuk perbaikan dan penggantian sel yang tua atau cedera.
9.
Sistem saraf adalah salah satu dari dua
sistem pengatur(kontrol) utama tubuh. Sistem ini sangat penting terutama untukmendeteksi
dan mencetuskan reaksi terhadap berbagai perubahan lingkungan intrnal. Sistem
ini juga bertanggung jawab atas fungsi lain yang lebih tinggi yang tidak seluruhnya
ditujukan untuk mempertahankan homeostasis.
10. Sistem
endokrin adalah sistem kontrol utama lainnya. Sistem ini terutama penting
untuk mengontrol konsentrasi zat-zat gizi dan, dengan menyesuaikan fungsi
ginjal, mengontrol volume serta komposisi elektrolit lingkungan internal.
11. Sistem
reproduksi, tidak esensial bagi homeostasis. sehingga tidak penting bagi kelangsungan
hidup individu, akan tetapi sistem ini penting bagi kelangsungan hidup suatu
spesies.
8.
BENDA CAIR,
CAIRAN, DAN GAS DALAM TUBUH MANUSIA
Benda cair
Tubuh memiliki zat air yang menempati porsi terbesar diperkirakan sekitar 50-60 persen tubuh orang dewasa terdiri atas air. Maka tak heran jika hampir semua reaksi di dalam tubuh manusia memerlukan cairan. Adapun ciri2 benda cair:
⦁ Molekul terikat secara longgar tapi berdekatan
⦁ Tekanan yang terjadi karena gaya grafitasi
⦁ Tekanan terjadi tegak lurus bidang
Tubuh memiliki zat air yang menempati porsi terbesar diperkirakan sekitar 50-60 persen tubuh orang dewasa terdiri atas air. Maka tak heran jika hampir semua reaksi di dalam tubuh manusia memerlukan cairan. Adapun ciri2 benda cair:
⦁ Molekul terikat secara longgar tapi berdekatan
⦁ Tekanan yang terjadi karena gaya grafitasi
⦁ Tekanan terjadi tegak lurus bidang
Benda cair dalam tubuh manusia
⦁ Dalam pembuluh darah
⦁ Dalam bola mata
⦁ Pada ibu hamil: dalam uterus
⦁ Cairan amnion
⦁ Dalam pembuluh darah
⦁ Dalam bola mata
⦁ Pada ibu hamil: dalam uterus
⦁ Cairan amnion
Alat ukur tekanan zat cair
·
Tonometer
Untuk mengukur tekanan intra okuler penderita glaucoma
Untuk mengukur tekanan intra okuler penderita glaucoma
·
Sistometer
Untuk mengukur tekanan kandung kencing.
Untuk mengukur tekanan kandung kencing.
Cairan tubuh
⦁ Seluruh sel-sel tubuh terendam dalam suatu cairan yang disebut cairan interstitiel yang bertindak sebagai lingkungan interna dari sel-sel.
⦁ Volume dan komposisi cairan interstitiel harus tetap berada dalam suatu batas yang tertentu agar sel-sel dapat berfungsi dengan normal.
⦁ Perubahan dari volume dan komposisi cairan interstitiel dapat menimbulkan kelainan fungsi tubuh (malfungsi).
⦁ Kelainan volume cairan akan mengganggu fungsi kardiovaskuler sedangkan perubahan komposisi cairan interstitiel akan mengganggu fungsi sel.
⦁ Jadi jelas bahwa harus terdapat suatu regulasi aktif untuk mempertahankan lingkungan dalam agar tetap konstan.
⦁ Cairan tubuh total : 60% dari BB
⦁ Cairan tubuh total : cairan intrasel 40% BB dan cairan ekstrasel 20% BB
⦁ Cairan ekstrasel :
- plasma darah 5% BB
- cairan interstitiel 15% BB
- cairan transelluler 1,5% BB
⦁ Cairan tubuh total dipengaruhi oleh: umur, jenis kelamin, dan derajat obesitas
⦁ Seluruh sel-sel tubuh terendam dalam suatu cairan yang disebut cairan interstitiel yang bertindak sebagai lingkungan interna dari sel-sel.
⦁ Volume dan komposisi cairan interstitiel harus tetap berada dalam suatu batas yang tertentu agar sel-sel dapat berfungsi dengan normal.
⦁ Perubahan dari volume dan komposisi cairan interstitiel dapat menimbulkan kelainan fungsi tubuh (malfungsi).
⦁ Kelainan volume cairan akan mengganggu fungsi kardiovaskuler sedangkan perubahan komposisi cairan interstitiel akan mengganggu fungsi sel.
⦁ Jadi jelas bahwa harus terdapat suatu regulasi aktif untuk mempertahankan lingkungan dalam agar tetap konstan.
⦁ Cairan tubuh total : 60% dari BB
⦁ Cairan tubuh total : cairan intrasel 40% BB dan cairan ekstrasel 20% BB
⦁ Cairan ekstrasel :
- plasma darah 5% BB
- cairan interstitiel 15% BB
- cairan transelluler 1,5% BB
⦁ Cairan tubuh total dipengaruhi oleh: umur, jenis kelamin, dan derajat obesitas
Fungsi cairan tubuh
⦁ Pembentuk struktur tubuh
⦁ Sarana transportasi (nutrisi, hormon, dan molekul2 kedlm sel)
⦁ Membantu mengeluarkan sisa2 metabolisme
⦁ Mengatur suhu
⦁ Pelarut elektrolit dan non elektrolit
⦁ Mengisi rongga2 tubuh (cairan pluera, spinal, perikardium, peritoneal)
Pertukaran cairan tubuh
⦁ Difusi : proses pertukaran cairan dari cairan berkonsentrasi tinggi ke cairan berkonsentrasi rendah
⦁ Osmosis : proses pertukaran cairan dari cairan berkonsentrasi rendah ke cairan berkonsentrasi tinggi melalui membran semipermiabel
⦁ Transpor Aktif : Proses perpindahan cairan tubuh dapat menggunakan mekanisme transpor aktif. Transpor aktif merupakan gerak zat yang akan berdifusi dan berosmosis. Proses penting untuk mempertahankan natrium dalam cairan intra dan ekstrasel
Penyebab Dehidrasi
A. Hilangnya cairan melalui sal. cerna
- muntah - Peritonitis
- diare
- obstruksi usus
B. Hilangnya cairan melalui ginjal
- Insufisiensi adrenal - Diabetes insipidus
- Diuresis osmotik - Diuresis berlebihan
C. Hilangnya cairan melalui kulit dan sal. Napas
- Keringat berlebihan - Keganasan paru
- Luka bakar
⦁ Pembentuk struktur tubuh
⦁ Sarana transportasi (nutrisi, hormon, dan molekul2 kedlm sel)
⦁ Membantu mengeluarkan sisa2 metabolisme
⦁ Mengatur suhu
⦁ Pelarut elektrolit dan non elektrolit
⦁ Mengisi rongga2 tubuh (cairan pluera, spinal, perikardium, peritoneal)
Pertukaran cairan tubuh
⦁ Difusi : proses pertukaran cairan dari cairan berkonsentrasi tinggi ke cairan berkonsentrasi rendah
⦁ Osmosis : proses pertukaran cairan dari cairan berkonsentrasi rendah ke cairan berkonsentrasi tinggi melalui membran semipermiabel
⦁ Transpor Aktif : Proses perpindahan cairan tubuh dapat menggunakan mekanisme transpor aktif. Transpor aktif merupakan gerak zat yang akan berdifusi dan berosmosis. Proses penting untuk mempertahankan natrium dalam cairan intra dan ekstrasel
Penyebab Dehidrasi
A. Hilangnya cairan melalui sal. cerna
- muntah - Peritonitis
- diare
- obstruksi usus
B. Hilangnya cairan melalui ginjal
- Insufisiensi adrenal - Diabetes insipidus
- Diuresis osmotik - Diuresis berlebihan
C. Hilangnya cairan melalui kulit dan sal. Napas
- Keringat berlebihan - Keganasan paru
- Luka bakar
Jenis Dehidrasi
⦁ Dehidrasi isoosmotik (Dehidrasi Isotonik C=E) : diare, muntah, eksudasi plasma pada luka bakar
⦁ Dehidrasi hiperosmotik (Dehidrasi hipertonik C>E) : intake air kurang, diabetes insipidus, demam, evaporasi kulit berlebihan
⦁ Dehidrasi hipoosmotik (Dehidrasi hipovolemik E>C) : hilangnya Nacl pada insupisiensi adrenal
Trasportasi gas oksigen
⦁ Berikatan dgn Hb (Oxyhemoglobin 97%)
⦁ Larut dlm plasma (3%)
Transport karbondioksida
⦁ Larut dlm plasma
⦁ Berikatan Hb (Carbaminohemoglobine 30%
⦁ Sebagai HCO3
Faktor2 yg mempengaruhi Oksigenasi
⦁ Kondisi kesehatan (Ggn organ vital n penykt kronis)
⦁ Perkembangan (Perubhn fisik slm tmbuh kembang)
⦁ Narkotik n Analgesik (mengakibtkan Depresi pusat napas trtma Morphin n mereridin)
⦁ Pola / gaya hidup (pola aktivitas yg tdk mendukung perkembangan alveoli. Misal merokok, krg olaraga
⦁ Environment (panas, dingin, altitute n polusi udara)
⦁ Latihan
⦁ Kondisi psikologi (emosi, cemas, marah)
Tujuan Terapi oksigen
Meningkatkan kadar oksigen udara napas kadar oksigen yang ada di paru-paru menjadi tinggi tekanan pastial oksigen dialveolus meningkat oksigen yang berdifusi melalui dinding alveolus lebih banyak kadar oksigen yang terangkut melalui peredaran darah cukup dan persediaan oksigen di jaringan sel dapat terpenuhi mencegah terjadinya hipoksia.
Efek langsung dari pemberian fraksi oksigen inspirasi ( FIO2 )
⦁ Mengatasi hipoksemia dengan peningkatan tekanan oksigen alveoli
⦁ Menurunkan usaha pernafasan untuk mempertahankan tekanan oksigen alveoli
⦁ Menurunkan kerja jantung untuk mempertahankan tekanan oksigen arteri
Sumber oksigen
⦁ Oksigen tangki adalah gas kering yang harus bebas debu dan partikel minyak agar dapat digunakan dalam terapi medik.
⦁ Dari regulator oksigen dapat digunakan untuk menjalankan ventilator, nebulizer, humidifer dan flowmeter.
⦁ Dari flowmeter baru boleh diberikan ke alat terapi oksigen (kanula, masker, bag).
Cara pemberian Oksigen
⦁ Kanula hidung
⦁ Sungkup sederhana
⦁ Sungkup dengan reservoir rebreathing
⦁ Sungkup dengan reservoir non rebreathing
⦁ Sungkup venture
⦁ Dehidrasi isoosmotik (Dehidrasi Isotonik C=E) : diare, muntah, eksudasi plasma pada luka bakar
⦁ Dehidrasi hiperosmotik (Dehidrasi hipertonik C>E) : intake air kurang, diabetes insipidus, demam, evaporasi kulit berlebihan
⦁ Dehidrasi hipoosmotik (Dehidrasi hipovolemik E>C) : hilangnya Nacl pada insupisiensi adrenal
Trasportasi gas oksigen
⦁ Berikatan dgn Hb (Oxyhemoglobin 97%)
⦁ Larut dlm plasma (3%)
Transport karbondioksida
⦁ Larut dlm plasma
⦁ Berikatan Hb (Carbaminohemoglobine 30%
⦁ Sebagai HCO3
Faktor2 yg mempengaruhi Oksigenasi
⦁ Kondisi kesehatan (Ggn organ vital n penykt kronis)
⦁ Perkembangan (Perubhn fisik slm tmbuh kembang)
⦁ Narkotik n Analgesik (mengakibtkan Depresi pusat napas trtma Morphin n mereridin)
⦁ Pola / gaya hidup (pola aktivitas yg tdk mendukung perkembangan alveoli. Misal merokok, krg olaraga
⦁ Environment (panas, dingin, altitute n polusi udara)
⦁ Latihan
⦁ Kondisi psikologi (emosi, cemas, marah)
Tujuan Terapi oksigen
Meningkatkan kadar oksigen udara napas kadar oksigen yang ada di paru-paru menjadi tinggi tekanan pastial oksigen dialveolus meningkat oksigen yang berdifusi melalui dinding alveolus lebih banyak kadar oksigen yang terangkut melalui peredaran darah cukup dan persediaan oksigen di jaringan sel dapat terpenuhi mencegah terjadinya hipoksia.
Efek langsung dari pemberian fraksi oksigen inspirasi ( FIO2 )
⦁ Mengatasi hipoksemia dengan peningkatan tekanan oksigen alveoli
⦁ Menurunkan usaha pernafasan untuk mempertahankan tekanan oksigen alveoli
⦁ Menurunkan kerja jantung untuk mempertahankan tekanan oksigen arteri
Sumber oksigen
⦁ Oksigen tangki adalah gas kering yang harus bebas debu dan partikel minyak agar dapat digunakan dalam terapi medik.
⦁ Dari regulator oksigen dapat digunakan untuk menjalankan ventilator, nebulizer, humidifer dan flowmeter.
⦁ Dari flowmeter baru boleh diberikan ke alat terapi oksigen (kanula, masker, bag).
Cara pemberian Oksigen
⦁ Kanula hidung
⦁ Sungkup sederhana
⦁ Sungkup dengan reservoir rebreathing
⦁ Sungkup dengan reservoir non rebreathing
⦁ Sungkup venture
Bahaya-bahaya pemberian O2
a. Kebakaran
Oksigen bukan zat pembakar tetapi oksigen dapat memudahkan terjadinya kebakaran
b. Depresi ventilasi
Pemberian O2 yang tidak dimonitor baik konsentrasi maupun aliran pada pasien dgn retensi CO2 dapat menekan ventilasi
c. Keracunan Oksigen
Dapat terjadi bila terapi oksigen yg diberikan dgn konsentrasi tinggi dalam waktu relatif lama
Keadaan ini dpt merusak jaringan paru dan kerusakan surfaktan.
9. LISTRIK
DAN MEDAN MAGNET DALAM SISTEM TUBUH
Kelistrikan memilki peranan penting
dalam bidang kedokteran. Ada dua aspek kelistrikan dan magnetis dalam bidang
kedokteran yaitu listrik dan magnet yang timbul dalam tubuh manusia, serta
penggunaan listrik dan magnet pada permukaan tubuh manusia
A. System Saraf dan Neuron
System saraf dibagi dalam 2 bagian
yaitu:
1.
Sistem
saraf pusat
Terdiri dari otak, medulla spinalis
dan saraf perifer. Saraf perifer ini adalah serat saraf yang mengirim informasi
sensoris ke otak atau ke Medulla spinalis disebut Saraf Affren, sedangkan serat
saraf yang menghantarkan informasi dari otak atau medulla spinalis ke otot atau
medulla spinalis ke otot serta kelenjar disebut saraf Efferen
2.
Sistem
saraf otonom
Serat saraf ini mengatur organ dalam
tubuh. Misalnya jantung, usus dan kelenjar-kelenjar. Pengontrolan ini dilakukan
secara tidak sadar.
Kelistrikan
saraf
Kalau
ditinjau besar kecilnya serat saraf maka serat saraf dapat di bagi dalam 3
bagian yaitu serat saraf tipe A, B, dan C. dengan mempergunakan mikroskop
electron, serat saraf dibagi dalam 2 tipe: yakni serat saraf bermielin dan
serat saraf tanpa myelin. Saraf bermielin banyak terdapat pada manusia. Myelin
merupakan suatu insulator (isolasi) makin menurun apabila melewati serat saraf
yang bermielin.
Kecepatan aliran listrik pada serat saraf yang berdiameter yang sama dan panjang yang sama sangat tergantung kepada lapisan mielin ini. Akson tanpa mielin (diameter 1 mm) mempunyai kecepatan 20-50 m/detik. Serat saraf bermielin pada diameter 10 um mempunyai 100 m/detik. Pada serat saraf bermielin aliran sinyal dapat meloncat dari suatu simpul ke simpul yang lain.
Suatu saraf atau neuron membrane otot-otot pada keadaan istirahat (tidak adanya proses konduksi implus listrik), konsentrasi ion Na+ lebih banyak diluar sel dari pda di dalam sel, di dalam sel akan lebih negative dibandingkan dengan di luar sel.
Apabila potensial diukur dengan galvanometer akan mencapai -90 m Volt, membrane sel ini disebut dalam keadaan polarisasi, dengan potensial membrane istirahat -90 m Volt.
Kecepatan aliran listrik pada serat saraf yang berdiameter yang sama dan panjang yang sama sangat tergantung kepada lapisan mielin ini. Akson tanpa mielin (diameter 1 mm) mempunyai kecepatan 20-50 m/detik. Serat saraf bermielin pada diameter 10 um mempunyai 100 m/detik. Pada serat saraf bermielin aliran sinyal dapat meloncat dari suatu simpul ke simpul yang lain.
Suatu saraf atau neuron membrane otot-otot pada keadaan istirahat (tidak adanya proses konduksi implus listrik), konsentrasi ion Na+ lebih banyak diluar sel dari pda di dalam sel, di dalam sel akan lebih negative dibandingkan dengan di luar sel.
Apabila potensial diukur dengan galvanometer akan mencapai -90 m Volt, membrane sel ini disebut dalam keadaan polarisasi, dengan potensial membrane istirahat -90 m Volt.
Perambatan Potensial Aksi
Potensial
aksi terjadi apabila suatu daerah membrane saraf atau otot mendapat rangsangan
mencapai nilai ambang. Potensial aksi itu sendiri mempunyai kemampuan untuk
merangsang daerah sekitar sel membrane untuk mencapai aksi kesegala jurusan sel
membrane, keadaan ini disebut perambatan potensial aksi atau gelombang
depolarisasi.
Setelah timbul potensial aksi, sel membrane akan mengalami repolarisasi sel membrane disebut suatu tingkat refrakter. Tingkat refrakter dibagi dalam 2 fase:
1. Periode Refrakter Absolut
Selama periode ini tidak ada rangsangan, tidak ada unsure kekuatan untuk menghasilkan aksi yang lain.
2. Periode Refrakter Relatif
Setelah sel membran mendekati repolarisasi seluruhnya maka dari periode refrakter absolute akan menjadi periode refrakter relatif, dan apabila ada stimulus/rangsangan yang kuat secara normal akan menghasilkan potensial aksi yang baru. Sel membrane setelah mencapai potensial membrane istirahat, sel membran tersebut telah siap untuk menghantarkan implus yang lain. Gelombang depolarisasi setelah mencapai ujung dari saraf atau setelah terjadi depolarisasi seluruhnya, gelombang tersebut akan berhenti dan tidak pernah aliran balik kearah mulainya datang rangsangan.
Setelah timbul potensial aksi, sel membrane akan mengalami repolarisasi sel membrane disebut suatu tingkat refrakter. Tingkat refrakter dibagi dalam 2 fase:
1. Periode Refrakter Absolut
Selama periode ini tidak ada rangsangan, tidak ada unsure kekuatan untuk menghasilkan aksi yang lain.
2. Periode Refrakter Relatif
Setelah sel membran mendekati repolarisasi seluruhnya maka dari periode refrakter absolute akan menjadi periode refrakter relatif, dan apabila ada stimulus/rangsangan yang kuat secara normal akan menghasilkan potensial aksi yang baru. Sel membrane setelah mencapai potensial membrane istirahat, sel membran tersebut telah siap untuk menghantarkan implus yang lain. Gelombang depolarisasi setelah mencapai ujung dari saraf atau setelah terjadi depolarisasi seluruhnya, gelombang tersebut akan berhenti dan tidak pernah aliran balik kearah mulainya datang rangsangan.
Kelistrikan pada sinapsis dan neuron
Hubungan
antara dua buah saraf disebut sinapsi, berakhirnya saraf pada sel otot/hubungan
saraf otot disebut Neuromyal junction. Baik sinapsis maupun neuromyal junction
mempunyai kemampuan meneruskan gelombang depolarisasi dengan cara lompat dari
satu sel ke sel yang berikutnya. Gelombang depolarisasi ini penting pada sel
membrane otot, oleh karena pada waktu terjadi depolarisasi. Zat kimia yang
terdapat pada otot akan tringger/bergetar/berdenyut menyebabkan kontraksi otot
dan setelah itu akan terjadi repolarisasi sel otot hal mana otot akan mengalami
reaksi.
Isyarat Magnet Jantung dan Otak
Mengalirnya
aliran listrik akan menimbulkan medan magnet. Medan magnet sekitar jantung
disebabkan adanya aliran listrik jantung yang mengalami depolarisasi dan
repolarisasi. Pencatatan medan magnet disebut magnetoksdiogram. Untuk mengukur
medan magnet dari suatu besaran benda diperlukan suatu ruang yang terlindung
dan sangat peka terhadap detector medan magnet (magnetometer). Detector yang
dipergunakan yaitu SQUID ( Superconding Quantum Interference Device) yang
bekerja pada suhu 5 derajat K, dan dapat mendeteksi medan magnet yang disebabkan
arus searah atau arus bolak-balik. Ada 2 alat untuk mencatat medan magnet ini
antara lain:
Magnetokardiografi (MKG)
MKG
memberi informasi jantung tanpa mempergunakan elektroda yang
didekatkan/ditempelkan pada badan, tidak seperti halnya pada waktu melakukan
EKG. Pencatatan dilakukan di daerah badan dengan jarak 5 cm. lokasi rekaman
diberi kode B, D, F, H, I, J, L (vertical). Horizontal dilakukan perekaman 5-6
kali dibubuhi huruf I dan ditandai dengan angka (1, 3, 5, 9)
Informasi yang diperlukan pada MKG tidak dapat dipakai sebagai EKG oleh karena dalam pengukuran medan magnet mempergunakan arus searah yang mengenai otot dan saraf. Perekaman MCG akan memberi informasi yang berguna dalam diagnosis apabila dikerjakan pada waktu jantung mengalami serangan oleh karena pada saat ini dipergunakan arus listrik.
Informasi yang diperlukan pada MKG tidak dapat dipakai sebagai EKG oleh karena dalam pengukuran medan magnet mempergunakan arus searah yang mengenai otot dan saraf. Perekaman MCG akan memberi informasi yang berguna dalam diagnosis apabila dikerjakan pada waktu jantung mengalami serangan oleh karena pada saat ini dipergunakan arus listrik.
Magnetoensefalogram (MEG)
MEG yaitu
pencatatan medan magnet sekeliling otak dengan mempergunakan arus searah. Alat
yang adalah SQUID magnetometer. Pada rithme alpha, medan magnet berkisar 1 x 10
pangkat -13 T.
Penggunaan Listrik dan Magnet pada
Tubuh.
Pada tahun
1890 Jacques A.D. Arsonval telah menggunakan listrik berfrekwensi rendah untuk
menimbulkan efek panas. Tahun 1992 telah pula menggunakan listrik dengan
frekwensi 30 MHz untuk memanaskan yang disebut “Short Wave Diaththermy”. Pada
1950 sudah diperkenalkan penggunaan gelombang mikro dengan frekwensi 2.450 MHz
untuk keperluan diathermi dan pemakain radar.
Harga efektif arus dan potensial
listrik
Arus
listrik mengalir diantara dua titik pada penghantar jika beda potensial antara
dua titik. Oleh karena itu pada tahun 1826 Georg Simon Ohm menyelidiki hubungan
arus dan potensial listrik, beda potensial sebanding dengan kuat arus dan
berbanding balik dengan hambatan penghantar .
Hukum Ohm :
V = R x I
V = beda potensial = Volt (v)
R = hambatan = Ohm (Ω)
I = kuat arus = ampere (A)
Hukum Ohm :
V = R x I
V = beda potensial = Volt (v)
R = hambatan = Ohm (Ω)
I = kuat arus = ampere (A)
Hambatan listrik hasil bagi antara
beda potensial antara ujung – ujung penghantar dan kuat arus yang melaluinya
hambatan listrik diberi satuan Ohm (Ω)
Hambatan = beda potensial : R = V/I
V = I x R
Kuat arus
Kuat arus
Segitiga rumus tegangan atau hukum
Ohm
1 kilo Ohm = 1000 Ohm
1 mega ohm = 1.000.000 Ohm
1 kilo Ohm = 1000 Ohm
1 mega ohm = 1.000.000 Ohm
Hambatan listrik dapat diukur secara
langsung dengan menggunakan Multi Meter / Avometer.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar