A. Pengertian Sistem Urinaria
Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).
B. Susunan Sistem Perkemihan atau Sistem Urinaria
1. GINJAL
Kedudukan ginjal terletak dibagian belakang dari kavum abdominalis di
belakang peritonium pada kedua sisi vertebra lumbalis III, dan
melekat langsung pada dinding abdomen.
Bentuknya seperti biji buah kacang merah (kara/ercis), jumlahnaya ada 2 buah kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari pada ginjal kanan.
Pada orang dewasa berat ginjal ± 200 gram. Dan pada umumnya ginjal laki – laki lebih panjang dari pada ginjal wanita.
Satuan struktural dan fungsional ginjal yang terkecil di sebut nefron. Tiap – tiap nefron terdiri atas komponen vaskuler dan tubuler. Komponen vaskuler terdiri atas pembuluh – pembuluh darah yaitu glomerolus dan kapiler peritubuler yang mengitari tubuli. Dalam komponen tubuler terdapat kapsul Bowman, serta tubulus – tubulus, yaitu tubulus kontortus proksimal, tubulus kontortus distal, tubulus pengumpul dan lengkung Henle yang terdapat pada medula.
Kapsula Bowman terdiri atas lapisan parietal (luar) berbentuk gepeng dan lapis viseral (langsung membungkus kapiler golmerlus) yang bentuknya besar dengan banyak juluran mirip jari disebut podosit (sel berkaki) atau pedikel yang memeluk kapiler secara teratur sehingga celah – celah antara pedikel itu sangat teratur.
Kapsula bowman bersama glomerolus disebut korpuskel renal, bagian tubulus yang keluar dari korpuskel renal disabut dengan tubulus kontortus proksimal karena jalannya yang berbelok – belok, kemudian menjadi saluran yang lurus yang semula tebal kemudian menjadi tipis disebut ansa Henle atau loop of Henle, karena membuat lengkungan tajam berbalik kembali ke korpuskel renal asal, kemudian berlanjut sebagai tubulus kontortus distal.
a. Bagian – Bagian Ginjal
Bila sebuh ginjal kita iris memanjang, maka aka tampak bahwa ginjal terdiri
dari tiga bagian, yaitu bagian kulit (korteks), sumsum ginjal (medula), dan
bagian rongga ginjal (pelvis renalis).
1. Kulit Ginjal (Korteks)
1. Kulit Ginjal (Korteks)
Pada kulit ginjal terdapat bagian yang bertugas melaksanakan penyaringan
darah yang disebut nefron. Pada tempat penyarinagn darah ini banyak mengandung
kapiler – kapiler darah yang tersusun bergumpal – gumpal disebut glomerolus.
Tiap glomerolus dikelilingi oleh simpai bownman, dan gabungan antara glomerolus
dengan simpai bownman disebut badan malphigi.
Penyaringan darah terjadi pada badan malphigi, yaitu diantara glomerolus dan simpai bownman. Zat – zat yang terlarut dalam darah akan masuk kedalam simpai bownman. Dari sini maka zat – zat tersebut akan menuju ke pembuluh yang merupakan lanjutan dari simpai bownman yang terdapat di dalam sumsum ginjal.
2. Sumsum Ginjal (Medula)
Sumsum ginjal terdiri beberapa badan berbentuk kerucut yang disebut piramid
renal. Dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya disebut apeks atau
papila renis, mengarah ke bagian dalam ginjal. Satu piramid dengan jaringan
korteks di dalamnya disebut lobus ginjal. Piramid antara 8 hingga 18 buah
tampak bergaris – garis karena terdiri atas berkas saluran paralel (tubuli dan
duktus koligentes). Diantara pyramid terdapat jaringan korteks yang disebut
dengan kolumna renal. Pada bagian ini berkumpul ribuan pembuluh halus yang
merupakan lanjutan dari simpai bownman. Di dalam pembuluh halus ini terangkut
urine yang merupakan hasil penyaringan darah dalam badan malphigi, setelah
mengalami berbagai proses.
3. Rongga Ginjal (Pelvis Renalis)
3. Rongga Ginjal (Pelvis Renalis)
Pelvis Renalis adalah ujung ureter yang berpangkal di ginjal, berbentuk
corong lebar. Sabelum berbatasan dengan jaringan ginjal, pelvis renalis
bercabang dua atau tiga disebut kaliks mayor, yang masing – masing bercabang
membentuk beberapa kaliks minor yang langsung menutupi papila renis dari
piramid. Kliks minor ini menampung urine yang terus kleuar dari papila. Dari
Kaliks minor, urine masuk ke kaliks mayor, ke pelvis renis ke ureter, hingga di
tampung dalam kandung kemih (vesikula urinaria).
b. Fungsi Ginjal:
- Mengekskresikan zat – zat sisa metabolisme yang mengandung nitrogennitrogen, misalnya amonia.
- Mengekskresikan zat – zat yang jumlahnya berlebihan (misalnya gula dan vitamin) dan berbahaya (misalnya obat – obatan, bakteri dan zat warna).
- Mengatur keseimbangan air dan garam dengan cara osmoregulasi.
- Mengatur tekanan darah dalam arteri dengan mengeluarkan kelebihan asam atau basa.
c. Tes Fungsi Ginjal Terdiri Dari :
1. Tes untuk protein albumin
Bila kerusakan pada glomerolus atau tubulus, maka protein dapat bocor masuk ke dalam urine.
2. Mengukur konsentrasi urenum darah
Bila ginjal tidak cukup mengeluarkan urenum maka urenum darah naik di atas kadar normal (20 – 40) mg%.
3. Tes konsentrasi
Dilarang makan atau minum selama 12 jam untuk melihat sampai seberapa tinggi berat jenisnya naik.
d. Peredaran Darah dan Persyarafan Ginjal
Peredaran Darah
Ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteria renalis, yang berpasangan kiri dan kanan dan bercabang menjadi arteria interlobaris kemudian menjadi arteri akuata, arteria interlobularis yang berada di tepi ginjal bercabang menjadi kapiler membentuk gumpalan yang disebut dengan glomerolus dan dikelilingi leh alat yang disebut dengan simpai bowman, didalamnya terjadi penyadangan pertama dan kapilerdarah yang meninggalkan simpai bowman kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena kava inferior.
Persyarafan Ginjal
Ginjal mendapat persyarafan dari fleksus renalis (vasomotor) saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf inibarjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal. Anak ginjal (kelenjar suprarenal) terdapat di atas ginjal yang merupakan senuah kelenjar buntu yang menghasilkan 2(dua) macam hormon yaitu hormone adrenalin dan hormn kortison.
2. URETER
Terdiri dari
2 saluran pipa masing – masing bersambung dari ginjal ke kandung kemih (vesika
urinaria) panjangnya ± 25 – 30 cm dengan penampang ± 0,5 cm. Ureter sebagian
terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam rongga pelvis.
Lapisan dinding ureter terdiri dari :
Lapisan dinding ureter terdiri dari :
- Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
- Lapisan tengah otot polos
- Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan – gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesika urinaria).
Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang dieskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis masuk ke dalam kandung kemih.
Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus psoas dan dilapisi oleh pedtodinium. Penyempitan ureter terjadi pada tempat ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis, pembuluh darah, saraf dan pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik.
3. VESIKULA URINARIA ( Kantung Kemih )
Kandung
kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet, terletak di belakang
simfisis pubis di dalam ronga panggul.
Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan ligamentum vesika umbikalis medius.
Bagian vesika urinaria terdiri dari :
Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan ligamentum vesika umbikalis medius.
Bagian vesika urinaria terdiri dari :
- Fundus, yaitu bagian yang mengahadap kearah belakang dan bawah, bagian ini terpisah dari rektum oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh jaringan ikat duktus deferent, vesika seminalis dan prostate.
- Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.
- Verteks, bagian yang maju kearah muka dan berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis.
- Dinding kandung kemih terdiri dari beberapa lapisan yaitu, peritonium (lapisan sebelah luar), tunika muskularis, tunika submukosa, dan lapisan mukosa (lapisan bagian dalam).
Proses Miksi (Rangsangan Berkemih).
Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan merangsang stres reseptor yang terdapat pada dinding kandung kemih dengan jumlah ± 250 cc sudah cukup untuk merangsang berkemih (proses miksi). Akibatnya akan terjadi reflek kontraksi dinding kandung kemih, dan pada saat yang sama terjadi relaksasi spinser internus, diikuti oleh relaksasi spinter eksternus, dan akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih.
Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung kemih dan relaksasi spinter interus dihantarkan melalui serabut – serabut para simpatis. Kontraksi sfinger eksternus secara volunter bertujuan untuk mencegah atau menghentikan miksi. kontrol volunter ini hanya dapat terjadi bila saraf – saraf yang menangani kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih utuh.
Bila terjadi kerusakan pada saraf – saraf tersebut maka akan terjadi inkontinensia urin (kencing keluar terus – menerus tanpa disadari) dan retensi urine (kencing tertahan).
Persarafan dan peredaran darah vesika urinaria, diatur oleh torako lumbar dan kranial dari sistem persarafan otonom. Torako lumbar berfungsi untuk relaksasi lapisan otot dan kontraksi spinter interna.
Peritonium melapis kandung kemih sampai kira – kira perbatasan ureter masuk kandung kemih. Peritoneum dapat digerakkan membentuk lapisan dan menjadi lurus apabila kandung kemih terisi penuh. Pembuluh darah Arteri vesikalis superior berpangkal dari umbilikalis bagian distal, vena membentuk anyaman dibawah kandung kemih. Pembuluh limfe berjalan menuju duktus limfatilis sepanjang arteri umbilikalis.
4. URETRA
Uretra
merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih yang berfungsi
menyalurkan air kemih keluar.
Pada laki- laki uretra bewrjalan berkelok – kelok melalui tengah – tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis kebagia penis panjangnya ± 20 cm.
Uretra pada laki – laki terdiri dari :
1. Uretra Prostaria
2. Uretra membranosa
3. Uretra kavernosa
Lapisan uretra laki – laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling dalam), dan lapisan submukosa.
Uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis pubisberjalan miring sedikit kearah atas, panjangnya ± 3 – 4 cm. Lapisan uretra pada wanita terdiri dari Tunika muskularis (sebelah luar), lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena – vena, dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam).Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di sini hanya sebagai saluran ekskresi.
Pada laki- laki uretra bewrjalan berkelok – kelok melalui tengah – tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang menembus tulang pubis kebagia penis panjangnya ± 20 cm.
Uretra pada laki – laki terdiri dari :
1. Uretra Prostaria
2. Uretra membranosa
3. Uretra kavernosa
Lapisan uretra laki – laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling dalam), dan lapisan submukosa.
Uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis pubisberjalan miring sedikit kearah atas, panjangnya ± 3 – 4 cm. Lapisan uretra pada wanita terdiri dari Tunika muskularis (sebelah luar), lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena – vena, dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam).Muara uretra pada wanita terletak di sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di sini hanya sebagai saluran ekskresi.
C. Urine (Air Kemih)
1. Sifat –
sifat air kemih
- Jumlah eksresi dalam 24 jam ± 1.500 cc tergantung dari masuknya (intake) cairan serta faktor lainnya.
- Warna bening muda dan bila dibiarkan akan menjadi keruh.
- Warna kuning terantung dari kepekatan, diet obat – obatan dan sebagainya.
- Bau khas air kemih bila dibiarkan terlalu lama maka akan berbau amoniak.
- Berat jenis 1.015 – 1.020.
- Reaksi asam bila terlalu lama akan menjadi alkalis, tergantung pada diet (sayur menyebabkan reaksi alkalis dan protein memberi reaksi asam).
2. Komposisi air kemih
- Air kemih terdiri dari kira – kira 95 % air
- Zat – zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein asam urea, amoniak dan kreatinin
- Elektrolit, natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fosfat dan sulfat
- Pigmen (bilirubin, urobilin)
- Toksin
- Hormon
3. Mekanisme Pembentukan Urine
Dari sekitar 1200ml darah yang melalui glomerolus setiap menit terbentuk 120 – 125ml filtrat (cairan yang telah melewati celah filtrasi). Setiap harinyadapat terbentuk 150 – 180L filtart. Namun dari jumlah ini hanya sekitar 1% (1,5 L) yang akhirnya keluar sebagai kemih, dan sebagian diserap kembali.
4. Tahap – tahap Pembentukan Urine
a. Proses filtrasi
Terjadi di glomerolus, proses ini terjadi karena permukaan aferent lebih besar dari permukaan aferent maka terjadi penyerapan darah, sedangkan sebagian yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein, cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowman yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke seluruh ginjal.
b. Proses reabsorpsi
Terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium, klorida, fosfat dan beberapa ion karbonat. Prosesnya terjadi secara pasif yang dikenal dengan obligator reabsorpsi terjadi pada tubulus atas. Sedangkan pada tubulus ginjal bagian bawah terjadi kembali penyerapan dan sodium dan ion karbonat, bila diperlukan akan diserap kembali kedalam tubulus bagian bawah, penyerapannya terjadi secara aktif dikienal dengan reabsorpsi fakultatif dan sisanya dialirkan pada pupila renalis.
c. Augmentasi (Pengumpulan)
Proses ini terjadi dari sebagian tubulus kontortus distal sampai tubulus pengumpul. Pada tubulus pengumpul masih terjadi penyerapan ion Na+, Cl-, dan urea sehingga terbentuklah urine sesungguhnya.
Dari tubulus pengumpul, urine yang dibawa ke pelvis renalis lalu di bawa ke ureter. Dari ureter, urine dialirkan menuju vesika urinaria (kandung kemih) yang merupakan tempat penyimpanan urine sementara. Ketika kandung kemih sudah penuh, urine dikeluarkan dari tubuh melalui uretra.
d. Mikturisi
Peristiwa penggabungan urine yang mengalir melalui ureter ke dalam kandung kemih., keinginan untuk buang air kecil disebabkan penambahan tekanan di dalam kandung kemih dimana saebelumnmya telah ada 170 – 23 ml urine.
Mikturisi merupakan gerak reflek yang dapat dikendalikan dan dapat ditahan oleh pusat – pusat persyarafan yang lebih tinggi dari manusia, gerakannya oleh kontraksi otot abdominal yang menekan kandung kemih membantu mengosongkannya.
5. Ciri – ciri Urine Normal
Rata – rata dalam satu hari 1 – 2 liter, tapi berbeda – beda sesuai dengan jumlah cairan yang masuk. Warnanya bening oranye pucat tanpa endapan, baunya tajam, reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata – rata 6.
ANATOMI KULIT
Kulit merupakan pembatas tubuh dengan lingkungan sekitar karena posisinya
yang terletak di bagian paling luar. Luas kulit dewasa 1,5 m2 dengan
berat kira-kira 15% berat badan.
Klasifikasi berdasar :
- Warna :
- terang (fair skin), pirang, dan hitam
- merah muda : pada telapak kaki dan tangan bayi
- hitam kecokelatan : pada genitalia orang dewasa
- Jenisnya :
- Elastis dan longgar : pada palpebra, bibir, dan preputium
- Tebal dan tegang : pada telapak kaki dan tangan orang dewasa
- Tipis : pada wajah
- Lembut : pada leher dan badan
- Berambut kasar : pada kepala
|
|
- Lapisan Epidermis (kutikel)
- Stratum Korneum (lapisan tanduk)
=> lapisan kulit paling luar yang terdiri dari sel gepeng yang mati, tidak berinti, protoplasmanya berubah menjadi keratin (zat tanduk) - Stratum Lusidum
=> terletak di bawah lapisan korneum, lapisan sel gepeng tanpa inti, protoplasmanya berubah menjadi protein yang disebut eleidin. Lapisan ini lebih jelas tampak pada telapak tangan dan kaki. - Stratum Granulosum (lapisan keratohialin)
=> merupakan 2 atau 3 lapis sel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya. Butir kasar terdiri dari keratohialin. Mukosa biasanya tidak mempunyai lapisan ini. - Stratum Spinosum (stratum Malphigi) atau
prickle cell layer (lapisan akanta )
=> terdiri dari sel yang berbentuk poligonal, protoplasmanya jernih karena banyak mengandung glikogen, selnya akan semakin gepeng bila semakin dekat ke permukaan. Di antara stratum spinosum, terdapat jembatan antar sel (intercellular bridges) yang terdiri dari protoplasma dan tonofibril atau keratin. Perlekatan antar jembatan ini membentuk penebalan bulat kecil yang disebut nodulus Bizzozero. Di antara sel spinosum juga terdapat pula sel Langerhans. - Stratum Basalis
=> terdiri dari sel kubus (kolumnar) yang tersusun vertikal pada perbatasan dermo-epidermal berbaris seperti pagar (palisade). Sel basal bermitosis dan berfungsi reproduktif. - Sel kolumnar => protoplasma basofilik inti lonjong besar, di hubungkan oleh jembatan antar sel.
- Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell => sel berwarna muda, sitoplasma basofilik dan inti gelap, mengandung pigmen (melanosomes)
- Lapisan Dermis (korium, kutis vera, true skin) => terdiri dari lapisan elastik dan fibrosa pada dengan elemen-elemen selular dan folikel rambut.
- Pars Papilare => bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah.
- Pars Retikulare => bagian bawah yang menonjol ke subkutan. Terdiri dari serabut penunjang seperti kolagen, elastin, dan retikulin. Dasar (matriks) lapisan ini terdiri dari cairan kental asam hialuronat dan kondroitin sulfat, dibagian ini terdapat pula fibroblas. Serabut kolagen dibentuk oleh fibroblas, selanjutnya membentuk ikatan (bundel) yang mengandung hidroksiprolin dan hidroksisilin. Kolagen muda bersifat elastin, seiring bertambahnya usia, menjadi kurang larut dan makin stabil. Retikulin mirip kolagen muda. Serabut elastin biasanya bergelombang, berbentuk amorf, dan mudah mengembang serta lebih elastis.
- Lapisan Subkutis (hipodermis) => lapisan paling dalam, terdiri dari jaringan ikat longgar berisi sel lemak yang bulat, besar, dengan inti mendesak ke pinggir sitoplasma lemak yang bertambah. Sel ini berkelompok dan dipisahkan oleh trabekula yang fibrosa. Lapisan sel lemak disebut dengan panikulus adiposa, berfungsi sebagai cadangan makanan. Di lapisan ini terdapat saraf tepi, pembuluh darah, dan getah bening. Lapisan lemak berfungsi juga sebagai bantalan, ketebalannya berbeda pada beberapa kulit. Di kelopak mata dan penis lebih tipis, di perut lebih tebal (sampai 3 cm).
Vaskularisasi di kuli diatur pleksus superfisialis (terletak di bagian atas
dermis) dan pleksus profunda (terletak di subkutis)
Adneksa Kulit
- Kelenjar Kulit => terdapat pada lapisan dermis
- Kelenjar Keringat (glandula sudorifera)
Keringat mengandung air, elektrolit, asam laktat, dan glukosa. pH nya sekitar 4-6,8. - Kelenjar Ekrin => kecil-kecil, terletak
dangkal di dermis dengan secret encer.
Kelenjar Ekrin terbentuk sempurna pada minggu ke 28 kehamilan dan berfungsi 40 minggu setelah kelahiran. Salurannya berbentuk spiral dan bermuara langsung pada kulit dan terbanyak pada telapak tangan, kaki, dahi, dan aksila. Sekresi tergantung beberapa faktor dan saraf kolinergik, faktor panas, stress emosional. - Kelenjar Apokrin => lebih besar, terletak
lebih dalam, secretnya lebih kental.
Dipengaruhi oleh saraf adrenergik, terdapat di aksila, aerola mammae, pubis, labia minora, saluran telinga. Fungsinya belum diketahui, waktu lahir ukurannya kecil, saat dewasa menjadi lebih besar dan mengeluarkan secret - Kelenjar Palit (glandula sebasea)
Terletak di seluruh permukaan kuli manusia kecuali telapak tangan dan kaki. Disebut juga dengan kelenjar holokrin karena tidak berlumen dan sekret kelenjar ini berasal dari dekomposisi sel-sel kelenjar. Kelenjar palit biasanya terdapat di samping akar rambut dan muaranya terdapat pada lumen akar rambut (folikel rambut). Sebum mengandung trigliserida, asam lemak bebas, skualen, wax ester, dan kolesterol. Sekresi dipengaruhi oleh hormon androgen. Pada anak-anak, jumlahnya sedikit. Pada dewasa menjadi lebih banyak dan berfungsi secara aktif. - Kuku => bagian terminal lapisan tanduk (stratum korneum) yang menebal. Pertumbuhannya 1mm per minggu.
- Nail root (akar kuku) => bagian kuku yang tertanam dalam kulit jari
- Nail Plate (badan kuku) => bagian kuku yang terbuka/ bebas.
- Nail Groove (alur kuku) => sisi kuku yang mencekung membentuk alur kuku
- Eponikium => kulit tipis yang menutup kuku di bagian proksimal
- Hiponikium => kulit yang ditutupi bagian kuku yang bebas
- Rambut
- Akar rambut => bagian yang terbenam dalam kulit
- Batang rambut => bagian yang berada di luar kulit
Jenis rambut
- Lanugo => rambut halus pada bayi, tidak mengandung pigmen.
- Rambut terminal => rambut yang lebih kasar dengan banyak pigmen, mempunyai medula, terdapat pada orang dewasa.
Pada dewasa, selain di kepala,
terdapat juga bulu mata, rambut ketiak, rambut kemaluan, kumis, janggut yang
pertumbuhannya dipengaruhi oleh androgen (hormon seks). Rambut halus di dahi
dan badan lain disebut rambut velus.
Rambut tumbuh secara siklik, fase anagen (pertumbuhan) b erlangsung 2-6 tahun dengan kecepatan tumbuh 0,35 mm perhari. Fase telogen (istirahat) berlangsung beberapa bulan. D antara kedua fase tersebut terdapat fase katagen (involusi temporer). Pada suatu saat 85% rambut mengalami fase anagen dan 15 % sisanya dalam fase telogen. Rambut normal dan sehat berkilat, elastis, tidak mudah patah, dan elastis. Rambut mudah dibentuk dengan memperngaruhi gugusan disulfida misalnya dengan panas atau bahan kimia.
Rambut tumbuh secara siklik, fase anagen (pertumbuhan) b erlangsung 2-6 tahun dengan kecepatan tumbuh 0,35 mm perhari. Fase telogen (istirahat) berlangsung beberapa bulan. D antara kedua fase tersebut terdapat fase katagen (involusi temporer). Pada suatu saat 85% rambut mengalami fase anagen dan 15 % sisanya dalam fase telogen. Rambut normal dan sehat berkilat, elastis, tidak mudah patah, dan elastis. Rambut mudah dibentuk dengan memperngaruhi gugusan disulfida misalnya dengan panas atau bahan kimia.
FUNGSI KULIT
- Fungsi Proteksi. Kulit punya bantalan lemak, ketebalan, serabut jaringan penunjang yang dapat melindungi tubuh dari gangguan :
- fisis/ mekanis : tekanan, gesekan, tarikan.
- kimiawi : iritan seperti lisol, karbil, asam, alkali kuat
- panas : radiasi, sengatan sinar UV
- infeksi luar : bakteri, jamur
Beberapa macam perlindungan :
- Melanosit => lindungi kulit dari pajanan sinar matahari dengan mengadakan tanning (penggelapan kulit)
- Stratum korneum impermeable terhadap berbagai zat kimia dan air.
- Keasaman kulit kerna ekskresi keringat dan sebum => perlindungan kimiawo terhadap infeksi bakteri maupun jamur
- Proses keratinisasi => sebagai sawar (barrier) mekanis karena sel mati melepaskan diri secara teratur.
- Fungsi Absorpsi => permeabilitas kulit terhadap O2, CO2, dan uap air memungkinkan kulit ikut mengambil fungsi respirasi. Kemampuan absorbsinya bergantung pada ketebalan kulit, hidrasi, kelembaban, metabolisme, dan jenis vehikulum. PEnyerapan dapat melalui celah antar sel, menembus sel epidermis, melalui muara saluran kelenjar.
- Fungsi Ekskresi => mengeluarkan zat yang tidak berguna bagi tubuh seperti NaCl, urea, asam urat, dan amonia. Pada fetus, kelenjar lemak dengan bantuan hormon androgen dari ibunya memproduksi sebum untuk melindungi kulitnya dari cairan amnion, pada waktu lahir ditemui sebagai Vernix Caseosa.
- Fungsi Persepsi => kulit mengandung ujung saraf sensori di dermis dan subkutis. Saraf sensori lebih banyak jumlahnya pada daerah yang erotik.
- Badan Ruffini di dermis dan subkutis => peka rangsangan panas
- Badan Krause di dermis => peka rangsangan dingin
- Badan Taktik Meissner di papila dermis => peka rangsangan rabaan
- Badan Merkel Ranvier di epidermis => peka rangsangan rabaan
- Badan Paccini di epidemis => peka rangsangan tekanan
- Fungsi Pengaturan Suhu Tubuh (termoregulasi) => dengan cara mengeluarkan keringat dan mengerutkan (otot berkontraksi) pembuluh darah kulit. Kulit kaya pembuluh darah sehingga mendapat nutrisi yang baik. Tonus vaskuler dipengaruhi oleh saraf simpatis (asetilkolin). Pada bayi, dinding pembuluh darah belum sempurna sehingga terjadi ekstravasasi cairan dan membuat kulit bayi terlihat lebih edematosa (banyak mengandung air dan Na)
- Fungsi Pembentukan Pigmen => karena terdapat melanosit (sel pembentuk pigmen) yang terdiri dari butiran pigmen (melanosomes)
- Fungsi Keratinisasi => Keratinosit dimulai dari sel basal yang mengadakan pembelahan, sel basal yang lain akan berpindah ke atas dan berubah bentuknya menjadi sel spinosum, makin ke atas sel makin menjadi gepeng dan bergranula menjadi sel granulosum. Makin lama inti makin menghilang dan keratinosit menjadi sel tanduk yang amorf. Proses ini berlangsung 14-21 hari dan memberi perlindungan kulit terhadap infeksi secara mekanis fisiologik.
- Fungsi Pembentukan Vitamin D => kulit mengubah 7 dihidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar matahari. Tapi kebutuhan vit D tubuh tidak hanya cukup dari hal tersebut. Pemberian vit D sistemik masih tetap diperlukan.
Proses Eliminasi Sisa Metabolisme
Eliminasi
sisa metabolisme merupakan pembuangan sampah dari proses metabolisme tubuh.
Beberapa jenis sampah metabolisme yang dibuang oleh tubuh antara lain, air, CO2,
urea, dan lain-lain. Sistem tubuh yang berperan dalam proses pembuangan
tersebut yaitu, sistem pernapasan, integumen, hepar, endokrin, dan renal.
Apabila sistem yang terlibat dalam eliminasi terganggu, maka terjadi perubahan
pola eliminasi.
1. Sistem Pernapasan
Sistem
pernapasan atau respirasi adalah suatu peristiwa inspirasi (menghirup udara O2)
dan ekspirasi (menghembuskan CO2). Menurut Syaifuddin (2011:382),
sistem respirasi berperan untuk menukar udara ke permukaan dalam paru.
Sementara itu menurut Guyton & Hall (2007:37), tujuan dari pernapasan
adalah untuk menyediakan oksigen bagi jaringan dan membuang karbondioksida.
Untuk mencapai tujuan ini, pernapasan dibagi menjadi empat fungsi utama : (1)
ventilasi paru, (2) difusi oksigen dan karbondioksida, (3) pengangkutan oksigen
dan karbondioksida, dan (4) pengaturan ventilasi.
Sistem
pernapasan berperan dalam pembuangan karbondioksida dan air. Pembuangan ini
juga dipengaruhi oleh fungsi kardiovaskuler. Misalnya,pada seseorang yang
mempunyai gangguan pompa jantung kiri di mana kemampuan jantung untuk menerima
pengembalian darah yang berasal dari paru-paru mengalami hambatan. Hal tersebut
menyebabkan tekanan hidrostatik paru-paru akan naik dan cairan keluar ke
intersitial jaringan paru-paru. Akibatnya terjadilah edema paru-paru. Kondisi
ini akan mengganggu proses difusi dan compliance paru-paru,sehingga terjadilah
gangguan eliminasi CO2 (Asmadi, 2008:91).
2. Sistem Integumen (Kelenjar Keringat)
Sistem
integumen mencakup kulit pembungkus permukaan tubuh dan jaringan aksesoris
lainnya, termasuk kuku, rambut,dan kelenjar. Syaifuddin (2011:48)
mengatakan bahwa kulit berhubungan dengan selaput lendir yang
melapisi rongga lubang masuk. Pada permukaan kulit bermuara kelenjar
keringat dan kelenjar mukosa.
Kelenjar
keringat merupakan kelenjar tubular bergelung tidak bercabang, terdapat pada
seluruh kulit kecuali pada dasar kuku, batas bibir, gland penis, dan gendang
telinga. Kelenjar ini paling banyak terdapat pada telapak tangan dan telapak
kaki. Terdapat dua macam kelenjar keringat,yaitu : Kelenjar keringat ekrin yang
tersebar di seluruh kulit tubuh kecuali kulup penis, bagian dalam telinga
luar,telapak tangan, telapak kaki, dan dahi; kelenjar keringat apokrin
merupakan kelenjar keringat yang besar hanya dapat ditemukan pada ketiak, kulit
puting susu, kulit sekitar alat kelamin, dan dubur (Syaifuddin, 2011:57).
Sedangkan, dalam kamus saku kedokteran Dorland (2012:476), sweat gland
(Kelenjar keringat) merupakan kelenjar yang menyekresikan
keringat,dijumpai pada lapisan dermis atau subkutan, salurannya bermuara
dipermukaan tubuh.
Keringat
yang dihasilkan ini berasal dari isi pembuluh darah yang berada di sekitar
kelenjar keringat tersebut. Keringat ini mengandung air,garam,urea,asam
urat,dan sisa metabolisme lainnya. Pengeluaran keringat ini dipengaruhi oleh
temperatur. Di mana peningkatan temperatur akan menyebabkan peningkatan
kecepatan metabolisme sel dan kemudian akan meningkatkan pembentukan keringat.
Selain itu,pengeluaran keringat juga dipengaruhi oleh hipotalamus melalui
sistem saraf otonom yang mengaktifkan saraf simpatis,sehingga
kelenjar keringat pun menjadi lebih aktif (Asmadi, 2008 : 91).
3. Sistem Hepar
Hati (hepar)
merupakan kelenjar aksesori terbesar dalam tubuh, berwarna cokelat, dan
beratnya 1000-1800 gram. Hati terletak di dalam rongga perut sebelah kanan atas
di bawah diafragma (Syaifuddin, 2011:546).
Hepar
(Liver) merupakan kelenjar besar berwarna merah gelap pada bagian atas perut
sebelah kanan, tepat di bawah diafragma. Fungsinya antara lain sebagai tempat
penyimpanan dan filtrasi darah, sekresi empedu, konvensi gula menjadi glikogen,
dan banyak aktivitas metabolik lainnya (Kamus Saku Kedokteran Dorland,
2012:632).
Jati
(2007:128) mengatakan bahwa hati berfungsi sebagai penhgstur keseimbangan
nutrien dalam darah dan sebagai organ yang menyekresikan empedu. Hepar juga
berperan dalam pembuangan sampah metabolisme. Kelainan pada hepar akan
mengakibatkan hepar tidak mempu untuk membuang sisa nitrogen. Asam amino,yang
akan digunakan sebagai energi,harus mengalami proses deaminasi dengan
dibuangnya gugus amin (NH3) yang merupakan nitrogen. NH3
ini tidak bisa begitu saja dibuang oleh tubuh, tetapi harus di proses dulu di
hepar menjadi ureum, urea. Sampah inilah yang akhirnya dibuang melalui keringat
dan ginjal (urine) (Asmadi, 2008 : 91).
4. Sistem Endokrin
Sistem
endokrin adalah suatu sistem yang bekerja dengan perantaraan zat-zat kimia
(hormon) yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin. Kelenjar endokrin merupakan
kelenjar buntu (sekresi interna) yang mengirim hasil sekresinya langsung
masuk ke dalam darah dan cairan limfe, beredar dalam jaringan kelenjar tanpa
melewati duktus (saluran) (Syaifuddin, 2011:248). Hasil sekresi kelenjar
tersebut dinamakan hormon endokrin.
Hormon endokrin
di bawa oleh sistem sirkulasi ke seldi seluruh tubuh, yang meliputi sistem
saraf pada beberapa keadaaan tempat hormon tersebut berikatan dengan reseptor
dan memulai berbagai reaksi (Guyton&Hall, 2007:951).
Sistem
endokrin juga berperan dalam eliminasi sampah metabolisme melalui pengaturan
jumlah air dan natrium yang diabsorbsi kembali oleh ginjal yang berkaitan
dengan jumlah cairan tubuh. Selain itu, sistem endokrin juga berperan dalam
pengaturan final urine. Pengaturan final urine ini diatur oleh tiga jenis
hormon yaitu antidiuretik hormon (ADH),renin,dan aldosteron.
5. Sistem Renal
Ginjal (ren)
merupakan sepasang organ berbentuk seperti kacang buncis, berwarna cokelat
kemerahan, yang terdapat di kedua sisi kolumna vetebral posterior terhadap peritoneum
dan terletak pada otot punggung bagian dalam (Potter&Perry, 2005:1679).
Ginjal kanan sedikit lebih rendah dibandingkan dengan ginjal kiri karena hati
menduduki ruang di bagian kanan lebih luas (Asmadi, 2008:91). Setiap ginjal
mempunyai panjang 11,25 cm, lebar 5-7 cm, dan tebal 2,5 cm. Sementara itu,
berat ginjal pria dewasa 150-170 gram dan wanita 115-155 gram (Syaifuddin,
2009:286).
Sistem renal
merupakan nama lain sistem perkemihan. Menurut Syaifuddin (2009:285), sistem perkemihan
adalah suatu sistem yang di dalamnya terhadi penyaringan darah sehingga darah
bebas dari zat yang tidak digunakan oleh tubuh. Zat ini akan larut dalam air
dan dikeluarkan berupa urine.
Potter&Perry
(2005:1679) mengatakan eliminasi urine tergantung kepada fungsi ginjal, ureter,
kandung kemih, dan uretra. Ginjal menyaring produk limbah dari darah untuk
membentuk urine.
Eliminasi
sampah metabolisme lainnya adalah eliminasi bilirubin yang terkonjugasi yang
merupakan sisa pemecahan eritrosit yang sudah tua (Asmadi, 2008:95). Bilirubin
yang terkonjugasi ini disimpan di dalam empedu dan karena perangsangan
pengeluaran kolesistokinin, bilirubin tersebut masuk ke duodenum. Bilirubin
merupakan pigmen yang memberikan warna cokelat kekuningan pada feses (Jati,
2007:128).
Proses Eliminasi
Sisa Pencernaan
1. Miksi/Eliminasi Urine
Miksi adalah proses pengosongan kandung kemih bila kandung kemih terisi.
Miksi ini sering
disebut buang air kecil.
2. Defekasi/Eliminasi Alvi
Buang air besar atau defekasi adalah suatu tindakan atau proses makhluk
hidup untuk
membuang kotoran atau tinja yang padat atau setengah-padat yang berasal dari sistem pencernaan.
1) ESOPHAGUS
Ketika makanan memasuki esophagus bagian atas ia berjalan melewati
spinkter esophagus bagian atas dimana ada sebuah otot sirkular yang mencegah
udara masuk ke esophagus dan makanan dari refluks ke tenggorokan. Bolus dari
makanan mengadakan perjalanan sepanjang 25cm di esophagus. Makanan didorong
oleh kontraksi otot polos. Sebagian dari esophagus berkontraksi di belakang
bolus makanan, otot sirkular di depan bolus. Gerakan peristaltik mendorong
makanan ke gelombang berikutnya. Peristaltik menggerakkan makanan sepanjang
saluran gastrointestinal. Dalam 15 detik bolus makanan berpindah dari esophagus
bagian bawah. Spinkter esophagus bagian bawah terletak antara esophagus dan
lambung, dan perbedaan tekanan ada di bagian akhir esophagus. Tekanan esophagus
bagian bawah 10-40 mmHg, sedangkan tekanan lambung 5-10 mmHg. Tingginya tekanan
biasanya menyebabkan refluks dari isi lambung ke esophagus. Faktor-faktor yang
mempengaruhi tekanan spinkter bagian bawah antara lain : antacid yang
menurunkan refluks, dan makanan berlemak dan nikotin yang meninggikan refluks.
2) LAMBUNG
Dalam lambung, makanan
disimpan sementara dan dipecahkan secara mekanik dan kimiawi untuk pencernaan
dan absorpsi. Lambung mensekresi
HCl, mukus, enzim pepsi, dan faktor intrinsik. Konsentrasi HCl mempengaruhi
keasaman lambung dan keseimbangan asam dalam tubuh. Setiap molekul HCl yang
disekresi di lambung, sebuah molekul bicarbonate memasuki plasma darah. HCl membantu
pencampuran dan pemecahan makanan di lambung, mucus melindungi mukosa lambung
dari keasaman dan aktivitas enzim. Pepsin mencerna protein, walaupun tidak
banyak pencernaan yang terjadi di lambung. Faktor intrinsic merupakan komponen
penting yang dibutuhkan untuk penyerapan vitamin B12 di usus dan pembentukan
sel darah merah. Kekurangan faktor intrinsik menyebabkan anemia.
Sebelum makanan meninggalkan lambung ia diubah menjadi bahan yang semifluid
yang disebut CHYME. Chyme lebih mudah dicerna dan diabsorpsi daripada makanan
yang padat. Klien yang sebagian lambungnya hilang atau menderita gastritis
mempunyai masalah pencernaan yang serius karena makanan tidak diubah menjadi
chyme. Makanan memasuki usus halus sebelum dipecah menjadi makanan yang
benar-benar semifluid.
3) USUS HALUS
Selama proses
pencernaan chime meninggalkan lambung dan memasuki usus halus. Usus halus
merupakan suatu saluran yang diameternya 2,5 cm dan panjangnya 6 m, terdiri
dari 3 bagian : duodenum, jejenum, ileum. Chyme
Hormon-hormon yang Terlibat pada Proses Elminasi.
1.
ADH (Anti Deuretik Hormon)
Hormon ini
memiliki peran dalam meningkatkan reabsorpsi air sehingga dapat mengendalikan
keseimbangan air dalam tubuh. Hormon ini dibentuk oleh hipotalamus yang
ada di hipofisis posterior yang mensekresi ADH dengan meningkatkan osmolaritas
dan menurunkan cairan ekstrasel (Frandson,2003 )
Dibentuk
dalam nucleus supraoptik dan mengandung asam amino. Mekanisme kerja ADH
adalah meningkatkan permeabilitas duktus untuk mereabsorpsi sebagian besar air
yang disimpan dalam tubuh dan mempermudah difusi bebas air dari tubulus cairan
tubuh kemudian diabsorpsi secara osmosis.
Pengaturan
produksi ADH: bila cairan ekstraseluler menjadi terlalu pekat, maka cairan
ditarik dengan proses osmosis keluar dari sel osmoreseptor sehingga mengurangi
ukuran sel dan menimbulkan sinyal saraf dalam hipotalamus untuk menyekresi ADH
tambahan. Sebaliknya bila cairan ekstraseluler terlalu encer, air
bergerak melalui osmosis dengan arah berlawanan masuk ke dalam sel.
Keadaan ini akan menurunkan sinyal saraf unutk menurunkan sekresi ADH.
2.
Mineralcorticoids
Mineralcorticoids
adalah hormon steroid glomerulosa zona disekresikan oleh korteks adrenal.
Mereka mengatur elektrolit dan keseimbangan air dalam tubuh
misalnya keringat, urin, empedu dan air liur.
a. Aldosteron
Aldosteron adalah hormon steroid dari golongan
mineralkortikoid yang disekresi dari bagian terluar zona glomerulosa pada
bagian korteks kelenjar adrenal, yang berpengaruh terhadap tubulus distal dan
collecting ducts dari ginjal sehingga terjadi peningkatan penyerapan kembali
partikel air, ion, garam oleh ginjal dan sekresi potasium pada saat yang
bersamaan. Hal ini menyebabkan peningkatan volume dan tekanan darah.
Hormon ini berfungsi pada absorbsi natrium yang
disekresi oleh kelenjar adrenal di tubulus ginjal. Proses pengeluaran
aldosteron ini diatur oleh adanya perubahan konsentrasi kalium, natrium, dan
sistem angiotensin rennin ( Frandson, 2003)
95% dari kegiatan mineralokortikoid ada di rekening
hormon ini. Sekresi aldosteron dirangsang oleh peningkatan K+
atau jatuh dalam Na+ konsentrasi dan volume darah. Aldosteron
mengurangi Na+ (dan Cl-) eliminasi dengan membantu dalam
reabsorpsi aktif dari nephric filtrat dengan bertindak lebih dari tubulus
distal dan tubulus convulated mengumpulkan. Ini mempromosikan K+
eliminasi dan mengurangi kehilangan air.
Jadi Aldosteron adalah hormon yang dihasilkan dan
dilepaskan oleh kelenjar adrenal, memberikan sinyal kepada ginjal untuk
membuang lebih sedikit natrium dan lebih banyak kalium. Pembentukan
aldosteron sebagian diatur oleh kortikotropin pada hipofisa dan sebagian lagi
oleh mekanisme kontrol pada ginjal (sistem renin-angiotensin-aldosteron).
Renin adalah enzim yang dihasilkan di dalam ginjal dan bertugas
mengendalikan pengaktivan hormon angiotensin, yang merangsang pembentukan
aldosteron oleh kelenjar adrenal.
3.
Hormon ovarium (estrogen dan progesteron)
Disekresi
oleh ovarium akibat respons terhadap dua hormon dari kelenjar hipofisis.
a. Estrogen
Alami yang menonjol adalah estroidal (estrogen kuat),
ovarium hanya membuat estrodiol merupakan produk degradasi (perubahan senyawa)
steroid-steroid pada wanita yang tidak hamil, selama kehamilan diproduksi oleh
plasenta. Estrogen beredar terikat pada protein plasma dan proses
peningkatannya terjadi dalam hati yang melaksanakan peran ganda dalam
metabolisme estrogen.
Urine wanita hamil benyak mengandung estrogen yang
dihasilkan oleh plasenta. Mekanisme aksi estrogen mengatur ekspresi gen
tertentu dalam sel yang bekerja sebagai sasaran
b. Progesteron
metabolism progesterone yang utama di dalam urine
ialah pregnanediol (tidak aktif) dan pregnanetriol (perubahan korteks
adrenal). Senyawa ini dibuang sebagai glucuronic (senyawa glikosid).
4.
Prostaglandin
Prostagladin
merupakan asam lemak yang ada pada jaringan yang berfungsi merespons radang,
pengendalian tekanan darah, kontraksi uterus, dan pengaturan pergerakan
gastrointestinal. Pada ginjal, asam lemak ini berperan dalam mengatur sirkulasi
ginjal ( Frandson, 2003) Prostaglandin adalah sekelompok zat yang menyerupai
hormon, seperti hormon mereka memainkan peran dalam berbagai proses fisiologis.
Michael W. Davidson dari Florida State University: "Prostaglandin
bertindak dengan cara yang mirip dengan hormon, dengan sel target merangsang ke
dalam tindakan Namun, mereka berbeda dari hormon dalam bahwa mereka bertindak
secara lokal, dekat situs mereka sintesis, dan mereka. dimetabolisme sangat
cepat. Fitur lain yang tidak biasa adalah bahwa prostaglandin yang sama
bertindak berbeda pada jaringan yang berbeda.
5.
Glukokortikoidtid
Hormon ini
berfungsi mengatur peningkatan reabsorpsi natrium dan air yang menyebabkan
volume darah meningkat sehingga terjadi retensi natrium( Frandson, 2003).
Kelenjar Adrenal/Suprarenal/Anak Ginjal. Kelenjar ini berbentuk bola yang
menempel pada bagian atas ginjal. Di setiap ginjal terdapat satu kelenjar
suprarenal yang terbagi menjadi 2 bagian, yaitu bagian luar(korteks)dan bagian
dalam (medula).
Salah satu
hormon yang dihasilkan yaitu hormon adrenalin yang berfungsi mengubah glikogen
menjadi glukosa. Hormon adrenalin bekerja berlawanan dengan hormon insulin.
Walaupun bekerja berlawanan tapi tujuannya sama, yaitu untuk mengatur kadar
gula dalam darah tetap stabil.
TANDA DAN GEJALA MASALAH ELIMINASI SISA METABOLISME DAN SISA PENCERNAAN
Kebutuhan
Eliminasi
Kebutuhan
eliminasi terdiri atas dua, yakni eliminasi urine (sisa metabolisme) dan
elimiasi alvi/kebutuhan buang air besar (sisa pencernaan)
Kebutuhan
Eliminasi Urine
Organ Yang Berperan Dalam Eliminasi
Urine
Organ yang
berperan dalam terjadinya eliminasi urine adalah ginjal, ureter, kandung kemih,
dan uretra. Peranan masing-masing organ tersebut diantaranya:
A. Ginjal
Ginjal
merupakan organ retroperitoneal (di belakan selaput perut)nyang terdiri atas
ginjal sebelah kiri dan kanan tulang punggung. Ginjal berperan sebagai pengatur
komposisi dan volume cairan dalam tubuh. Ginjal juga menyaring bagian dari
darah untuk di buang dalam bentuk urine sebagai zat sisa yang tidak di perlukan
oleh tubuh.
B. Kandung kemih
Kandung
kemih merupakan sebuah kantong yang terdiri atas otot halus yang berfungsi
sebagai penampung air seni / urine.
C. Uretra
Uretra
merupakan organ yang berfungsi untuk menyalurkan urine ke bagian luar. Fungsi
uretra pada wanita mempunyai fungsi berbeda denagn yang terdapat pada pria.
Pada pria, uretra digunakan sebagai tempat pengaliran urine dan sisitem
reproduksi berukuran panjang ±20 cm, sedangkan pada wanita memiliki panjang
4-6,5 cm san hanya berfungsi untuk menyalurkan urine ke bagian luar tubuh.
Komposisi urine:
1. Air (96 %)
2. Larutan (4 %) :
ü larutan organik (urea, amonia,
kreatin dan asam urat)
ü laarutan anorganik (natrium, klorida,
kalium,sulfat)
Faktor Yang Mempengaruhi Eliminasi
Urine
1. Diet dan asupan (intake)
jumlah dan tipe makanan merupakan
faktor utama yang mempengaruhi jumlah urine. Protein dan natrium dapat
menentukan jumlah urine yang di bentuk. Selain itu, minum kopi juga dapat
meningkatkan pembentukan urine.
2. Respons keinginan awal untuk berkemih
kebiasaan mengabaikan keinginan awal
untuk berkemih dapat menyebabkan urine banyak tertahan di dalam vesika
urinaria. Sehingga mempengaruhi ukuran vesika urinaria dan jumlah pengeluaran
urine.
3. Gaya hidup
perubahan gaya hidup dapat
mempengaruhi pemenuhan kebutuhan eliminasi. Hal ini terkait dengan tersedianya
fasilitas toilet.
4. Stres psikologis
meningkatnya stres dapat
meningkatkan frekuensi keinginan berkemih.
5. Tingkat aktivitas
6. Tingkat perkembangan
7. Kondisi penyakit
kondisi penyakit dapat mempengaruhi
produksi urime, seperti Diabetes Melitus
8. Sosiokultural
9. Kebiasaan sesorang
10. Pemeriksaan diagnostik
Gangguan/Masalah Kebutuhan Eliminasi
Urine
a.
retensi urine
retensi
urine merupakan penumpukan urine dalam kandung kemih akibat ketidakmampuan
kandung kemihuntuk mengosongkan kandong kemih.
Tanda
klinis retensi:
o ketidaknyamanan daerah pubis
o distensi vesika urinaria
o ketidak sanggupan untuk berkemih
o sering berkemih, saat vesika urinaria berisi sedikit urine.
( 25-50 ml)
o ketidakseimbangan jumlah urine yang dikeluarkan dengan
asupannya
o meningkatkan keresahan dan keinginan berkemih
o adanya urine sebanyak 3000-4000 ml dalam kandung kemih.
Penyebab:
o operasi pada daerah abdomen bawah, pelvis vesika urinaria
o trauma sum sum tulang belakng
o tekanan uretra yang tinggi karena otot detrusor yang lemah
o sphincter yang kuat
o sumbatan (striktur uretra dan pembesaran kelenjar prostat)
b.
Inkontinesia Urine
merupakan
ketidakmampuan otot spinkter eksternal sementara atau menetap untuk mengontrol
eksresi urin. Penyebab nya: proses penuaan (aging prodess), pembesaran kelnjar
prostat, serta penurunan kesadaran serta penggunaan obat narkotik.
c.
Enuresis
merupakan
ketidaksanggupan menahan kemih (ngompol) yang di akibatkan tidak mampu
mengontrol sphincter eksterna. Biasanya enuresis terjadi pada anak atau orang
jompo.
Faktor
penyebab:
ü Kapasitas vesika urinaria lebih
besar dari normal
ü Vesika urinaria peka ransang, dan
seterusnya tidak dapat menampung urine dalam jumlah besar
ü Suasana emosional yang tidak
menyenangkan di rumah
ü Infeksi saluran kemih, perubahan
fisik, atau neorologis sistem perkemihan
ü Makanan yang banyak mengandung garam
dan mineral
ü Anak yang takut jalan gelap untuk ke
kamar mandi.
d.
Perubahan Pola Eliminasi Urine
Merupakan keadaan
seseorang yang mengalami gangguan pada eliminasi urine karena obstruksi
anatomis, kerusakan motorik sensorik, dan infeksi saluran kemih. Perubahan pola
eliminasi urin terdiri atas:
a. frekuensi
b. urgensi
c. disuria
d. poliuria
e. urinaria supresi.
Kebutuhan Eliminasi Alvi (Buang Air
Besar)
Sistem Yang Berperan Dalam Eliminasi
Alvi
sistem tubuh yang berperan dalam
proses eliminasi alvi (buang air besar) adalah sistem gastrointertinal yang
meliputi usus halus dan usus besar. Usus halus terdiri atas duodenum, jejunum,
dan ileum dengan panjang ± 6 m.
Proses
Buang Air Besar (Defekasi)
Defekasi adalah proses pengosongan
usus yang sering disebut buang air besar.
Gangguan/
Masalah Eliminasi Alvi
a. konstipasi
merupan keadaan
individu yang mengalami atau berisisko tinggi mengalami stasis usus besar
sehingga menimbulkan eliminasi yang jarang atau keras, serta tinja yang keluar
jadi terlalu kering dan keras.
Tanda
klinis:
§ adanya feses yang keras
§ defekasi kurang dari 3 kali seminggu
§ menurunnya bising usus
§ adanya keluhan pada rektum
§ nyeri pada saat mengejan dan
defekasi
§ adanya perasaan masih ada sisa feses
Kemungkinan penyebab:
§ defek persarafan, kelemahan pelvis,
immobilitas karena cidera serebrospinalis, dll
§ pola defekasi yang tidak teratur
§ nyeri saat defekasi karena hemorroid
§ menurunnya peristaltik karena stres
psikologis
§ penggunaan obat seperti antasida
§ proses menua/ usia lanjut
b. diare
merupakan
keadaan individu yang mengalami atau berisiko sering mengalami pengeluaran
feses dalam bentuk cair.
Tanda
klinis:
o
adanya
pengeluaran feses cair
o
frekuensi
lebih dari 3 kali sehari
o
nyeri
atau kram abdomen
o
bising
usus meningkat
Kemungkinan penyebab:
o
malabsorpsi
atau inflamsi, proses infeksi
o
peningkatan
peristaltik karean peningkatan metabolisme
o
efek
tindakan pembedahan usus
o
efek
penggunaan obat seperti antasida,antibiotik, dll
o
stres
psikologis
c. inkontinensia usus
merupakan
keadaan individu yang mengalami perubahan kebiasaan dari proses defekasi
normal, hingga mengalami proses pengeluaran feses tak di sadari.
Tanda
klinis:
Ø pengeluaran feses yang tidak di
kehendaki
kemungkinan
penyebab:
Ø gangguan sphincter rektal akibat
cedera anus, pembedahan dll
Ø distensi rektum berlebih
Ø kurangnya kontrol sphincter akibat
cedera medula spinalis, CVA dll
Ø kerusakan kognitif
d. kembung
merupakan
keadaan penuh udara dalam perut karena pengumpulan gas secara berlebihan dalam
lambung atau usus.
e. Hemorroid
Merupakan
keadaan terjadinya pelebaran vena di daerah anus sebagai akibat peningkatan
tekanan di daerah anus yang dapat di sebabklan karena konstipasi, peregangan
saat defekasi dll
f. fecal impaction
merupakan
massa feses keras dilipatan rektum yang di akibatkan oleh retensi dan akumulasi
materi feses yang berkepanjangan. Penyebab nya yaitu asupan kurang, aktivitas
kurang, diet rendah serat, dan kelemah tonus otot.
Faktor yang mempengaruhi proses
defekasi
a) usia
b) diet
c) asupan cairan
d) aktivitas
e) pengobatan
f) gaya hidup
g) penyakit
h) nyeri
i)
kerusakan
sensoris dan motoris











Tidak ada komentar:
Posting Komentar