KESEIMBANGAN CAIRAN
DAN ELEKTROLIT
Kebutuhan cairan dan elektrolit
adalah suatu proses dinamik karena metabolisme tubuh membutuhkan perubahan yang
tetap untuk melakukan respons terhadap keadaan fisiologis dan lingkungan.
Keseimbangan cairan adalah essensial bagi kesehatan. Dengan kemampuannya yang
sangat besar untuk menyesuaikan diri, tubuh mempertahankan keseimbangan,
biasanya dengan proses-proses faal (fisiologis) yang terintegrasi yang
mengakibatkan adanya lingkungan sel yang relatif konstan tapi dinamis.
Kemampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan cairan ini dinamakan
“homeostasis”.
A. Komposisi Cairan Tubuh
Cairan tubuh terdiri dari air (pelarut) dan substansi
terlarut (zat terlarut)
1. Air
Air adalah senyawa utama dari tubuh
manusia. Jumlah air sekitar 73% dari bagian tubuh seseorang tanpa jaringan
lemak (lean body mass).
2. Solut (substansi terlarut)
Selain air, cairan tubuh mengandung
dua jenis substansi terlarut (zat terlarut) yaitu berupa elektrolit dan
non-elektrolit.
- Elektrolit : Substansi yang berdisosiasi (terpisah) di dalam larutan dan akan menghantarkan arus listrik. Elektrolit berdisosiasi menjadi ion positif dan negatif dan diukur dengan kapasitasnya untuk saling berikatan satu sama lain (mEq/L) atau dengan berat molekul dalam garam (mmol/L). Jumlah kation dan anion, yang diukur dalam miliekuivalen, dalam larutan selalu sama. Bila garam larut dalam air, misalnya garam Nacl, akan terjadi disosiasi sehingga terbentuk ion-ion bermuatan positif dan negatif. Ion positif dinamakan kation, sedangkan ion negatif dinamakan anion. Ion mengandung muatan listrik dinamakan elektrolit. Cairan tubuh yang mengandung air dan garam dalam keadaan disosiasi dinamakan larutan elektrolit. Dalam semua larutan elektrolit, ada keseimbangan antara konsentrasi anion dan kation.
- Kation : ion-ion yang mambentuk muatan positif dalam larutan. Kation ekstraselular utama adalah natrium (Na+), sedangkan kation intraselular utama adalah kalium (K+). Sistem pompa terdapat di dinding sel tubuh yang memompa natrium ke luar dan kalium ke dalam.
- Anion : ion-ion yang membentuk muatan negatif dalam larutan. Anion ekstraselular utama adalah klorida (Clˉ), sedangkan anion intraselular utama adalah ion fosfat (PO43-).
Tubuh
menggunakan elektrolit untuk mengatur keseimbangan cairan tubuh. Sel-sel tubuh
memilih elektrolit untuk ditempatkan diluar (terutama natrium dan klorida) dan
didalam sel (terutama kalium, magnesium, fosfat, dan sulfat). Molekul air,
karena bersifat polar, menarik elektrolit. Walaupun molekul air bermuatan nol,
sisi oksigennya sedikit bermuatan negatif, sedangkan hidrogennya sedikit
bermuatan positif. Oleh sebab itu, dalam suatu larutan elektrolit, baik ion
positif maupun ion negatif menarik molekul air disekitarnya.
- Non-elektrolit : Substansi seperti glokusa dan urea yang tidak berdisosiasi dalam larutan dan diukur berdasarkan berat (miligram per 100 ml-mg/dl). Non-elektrolit lainnya yang secara klinis penting mencakup kreatinin dan bilirubin.
B. Kompartemen Cairan
Seluruh cairan tubuh didistribusikan
diantara dua kompartemen utama, yaitu : cairan intraselular (CIS) dan cairan
ekstra selular (CES). Pada orang normal dengan berat 70 kg, Total cairan tubuh
(TBF) rata-ratanya sekitar 60% berat badan atau sekitar 42 L. persentase ini
dapat berubah, bergantung pada umur, jenis kelamin dan derajat obesitas (Guyton
& Hall, 1997)
- Cairan Intraselular (CIS) = 40% dari BB total
Adalah cairan yang terkandung di dalam sel. Pada orang
dewasa kira-kira 2/3 dari cairan tubuh adalah intraselular, sama kira-kira 25 L
pada rata-rata pria dewasa (70 kg). Sebaliknya, hanya ½ dari cairan tubuh bayi
adalah cairan intraselular.
- Cairan Ekstraselular (CES) = 20% dari BB total
Adalah cairan diluar sel. Ukuran relatif dari (CES)menurun
dengan peningkatan usia. Pada bayi baru lahir, kira-kira ½ cairan tubuh
terkandung didalam CES. Setelah 1 tahun, volume relatif dari CES menurun sampai
kira-kira 1/3 dari volume total. Ini hampir sebanding dengan 15 L dalam
rata-rata pria dewasa (70 kg).
Cairan Ekstraseluler terdiri dari :
Ø Cairan interstisial (CIT) : Cairan
disekitar sel, sama dengan kira-kira 8 L pada orang dewasa. Cairan limfe
termasuk dalam volume interstisial. Relatif terhadap ukuran tubuh, volume CIT
kira-kira sebesar 2 kali lebih besar pada bayi baru lahir dibanding orang
dewasa.
Ø Cairan intravaskular (CIV) : Cairan yang terkandung di dalam
pembuluh darah. Volume relatif dari CIV sama pada orang dewasa dan anak-anak.
Rata-rata volume darah orang dewasa kira-kira 5-6 L (8% dari BB), 3 L (60%)
dari jumlah tersebut adalah PLASMA. Sisanya 2-3 L (40%) terdiri dari sel darah
merah (SDM, atau eritrosit) yang mentransfor oksigen dan bekerja sebagai bufer
tubuh yang penting; sel darah putih (leukosit); dan trombosit. Tapi nilai
tersebut diatas dapat bervariasi pada orang yang berbeda-beda, bergantung pada
jenis kelamin, berat badan dan faktor-faktor lain. Adapun fungsi dari darah
adalah mencakup :
ü Pengiriman nutrien (misal ; glokusa dan oksigen) ke jaringan
ü Transpor produk sisa ke ginjal dan paru-paru
ü Pengiriman antibodi dan SDP ke tempat infeksi
ü Transpor hormon ke tempat aksinya
ü Sirkulasi panas tubuh
Ø Cairan Transelular (CTS) : Adalah cairan yang terkandung di
dalam rongga khusus dari tubuh. Contoh CTS meliputi cairan serebrospinal,
perikardial, pleural, sinovial, dan cairan intraokular serta sekresi lambung.
Pada waktu tertentu CTS mendekati jumlah 1 L. Namun, sejumlah besar cairan
dapat saja bergerak kedalam dan keluar ruang transelular setiap harinya.
Sebagai contoh, saluran gastro-intestinal (GI) secara normal mensekresi dan
mereabsorbsi sampai 6-8 L per-hari.
Secara Skematis Jenis dan Jumlah
Cairan Tubuh dapat digambarkan sebagai berikut :
C. Fungsi dan Kebutuhan Cairan
Tubuh
Air merupakan sebagian besar zat
pembentuk tubuh manusia. Jumlah air sekitar 73% dari bagian tubuh seseorang
tanpa jaringan lemak (lean body mass). Tergantung jumlah lemak yang
terdapat dalam tubuh, proporsi air ini berbeda antar orang.
Prosentase Total Cairan Tubuh
Dibandingkan Berat Badan
Distribusi Cairan Tubuh
Nilai Rata-Rata Cairan Ekstraseluler
(Ces) Dan Cairan Intraseluler (Cis) Pada Dewasa Normal Terhadap Berat Badan
Bagi manusia, air berfungsi sebagai
bahan pembangunan disetiap sel tubuh. Cairan manusia memiliki fungsi yang
sangat vital, yaitu untuk mengontrol suhu tubuh dan menyediakan lingkungan yang
baik bagi metabolisme. Cairan tubuh bersifat elektrolit (mengandung atom
bermuatan listrik) dan alkalin (basa). Dengan demikian air digunakan dalam
tubuh sebagai pelarut, bagian dari pelumas, pereaksi kimia, mengatur suhu
tubuh, sebagai sumber mineral, serta membantu memelihara bentuk dan susunan
tubuh. Air yang dibutuhkan manusia berasal dari makanan dan minuman serta
pertukaran zat dalam tubuh.
Air mempunyai berbagai fungsi dalam
proses vital tubuh, yaitu :
- Pelarut dan alat angkut. Air dalam tubuh berfungsi sebagai pelarut zat-zat gizi berupa monosakarida, asam amino, lemak, vitamin dan mineral serta bahan-bahan lain yang diperlukan tubuh seperti oksigen, dan hormon-hormon.
- Katalisator. Air berperan sebagai katalisator dalam berbagai reaksi biologik dalam sel, termasuk didalam saluran cerna. Air diperlukan pula untuk memecah atau menghidrolisis zat gizi kompleks menjadi bentuk-bentuk lebih sederhana.
- Pelumas. Air berperan sebagai pelumas dalam cairan sendi-sendi tubuh.
- Fasilitator pertumbuhan. Air sebagai bagian jaringan tubuh diperlukan untuk pertumbuhan. Dalam hal ini air berperan sebagai zat pembangun.
- Pengatur suhu. Karena kemampuan air untuk menyalurkan panas, air memegang peranan dalam mendistribusikan panas didalam tubuh.
- Peredam benturan. Air dalam mata, jaringan syaraf tulang belakang, dan dalam kantung ketuban melindungi organ-organ tubuh dari benturan-benturan.
Kebutuhan air sehari dikatakan
sebagai proporsi terhadap jumlah energi yang dikeluarkan tubuh dalam keadaan
lingkungan rata-rata. Untuk orang dewasa dibutuhkan sebanyak 1.0-1.5 ml/kkal,
sedangkan untuk bayi 1.5 ml/kkal.
D. Distribusi dan Keseimbangan
Cairan Tubuh
Cairan tubuh merupakan media semua
reaksi kimia di dalam sel. Tiap sel mengandung cairan intraseluler (cairan di
dalam sel) yang komposisinya paling cocok untuk sel tersebut dan berada di
dalam cairan ekstraseluler (cairan di luar sel) yang cocok pula. Cairan
ekstraseluler terdiri atas cairan interstisial atau intraseluler (sebagian
besar) yang terdapat disel-sel dan cairan intravaskular berupa plasma darah.
Semua cairan tubuh setiap waktu kehilangan dan mengalami penggantian
bagian-bagiannya, namun komposisi cairan dalam tiap kompartemen dipertahankan
agar selalu berada dalam keadaan homeostatik / tetap. Keseimbangan cairan di
tiap komportemen menentukan volume dan tekanan darah.
Tubuh harus mampu memelihara
konsentrasi semua elektrolit yang sesuai didalam cairan tubuh, sehingga
tercapai keseimbangan cairan dan elektrolit. Pengaturan ini penting bagi
kehidupan sel, karena sel harus secara terus menerus berada didalam cairan
dengan komposisi yang benar, baik cairan didalam maupun diluar sel. Mineral
makro terdapat dalam bentuk ikatan garam yang larut dalam cairan tubuh. Sel-sel
tubuh mengatur kemana garam harus bergerak dengan demikian menetapkan kemana
cairan tubuh harus mengalir, karena cairan mengikuti garam. Kecenderungan air
mengikuti garam dinamakan osmosis.
Keseimbangan cairan tubuh adalah
keseimbangan antara jumlah cairan yang masuk dan keluar. Melalui mekanisme
keseimbangan, tubuh berusaha agar cairan didalam tubuh setiap waktu berada
dalam jumlah yang tetap/konstan. Ketidakseimbangan terjadi pada dehidrasi
(kehilangan air secara berlebihan) dan intoksikasi air (kelebihan air).
Konsumsi air terdiri atas air yang diminum dan yang diperoleh dari makanan,
serta air yang diperoleh sebagai hasil metabolisme. Air yang keluar dari tubuh
termasuk yang dikeluarkan sebagai urin, air didalam feses, dan air yang
dikeluarkan melalui kulit dan paru-paru. Keseimbangan air rata-rata berupa
masukan dan ekskresi dapat dilihat pada tabel berikut :
Masukan Air
|
Jumlah (ml)
|
Ekskresi /Keluaran Air
|
Jumlah (ml)
|
Cairan
|
550-1500
|
Ginjal
|
500-1400
|
Makanan
|
700-1000
|
Kulit
|
450-900
|
Air metabolik
|
200-300
|
Paru-paru
|
350
|
Feses
|
150
|
||
Jumlah
|
1450-2800
|
1450-2800
|
Sumber : Almatsier (2001) disitasi
dari Whitney et al. (1993) Understanding Nutrition
Air dibuang dari tubuh melalui air
seni, keringat, dan penguapan air melalui alat pernapasan yaitu sebagai sarana
transportasi zat gizi dan oksigen ke seluruh tubuh. Aktivitas tubuh akan selalu
mengeluarkan cairan dalam bentuk keringat, urin, feses dan nafas. Tubuh akan
kehilangan cairan sekitar 2.5 liter setiap hari. Untuk menjaga agar kondisi dan
fungsi cairan tubuh tidak terganggu, kehilangan tersebut harus diganti. Jika
tubuh tidak cukup mendapatkan air atau kehilangan air maka akan menimbulkan
dehidrasi.
Dehidrasi adalah suatu keadaan
kehilangan cairan sehingga mengganggu fungsi normal organ-organ tubuh. Tubuh
kita dapat mengalami dehidrasi disebabkan oleh masukan air kurang atau keluaran
air berlebihan. Dehidrasi karena keluaran air berlebihan disebabkan oleh diare
atau peningkatan aktivitas fisik.
Pada aktivitas fisik biasa, tubuh
kehilangan air sebanyak 2,5 liter per hari, sebagian besar (60%) dikeluarkan
melalui air seni. Pada peningkatan aktivitas fisik, misalnya berolahraga,
kehilangan air mencapai 1-2 liter per jam, sebagian besar (95%) dikeluarkan
melalui keringat. Banyaknya air yang hilang tergantung pada intensitas
aktivitas fisik, dan suhu dan kelembaban. Makin besar intensitas latihan, suhu
dan kelembaban, akan semakin besar kehilangan air.
Rasa haus merupakan gejala awal
terjadinya dehidrasi. Kehilangan air sebanyak 2% dari berat badan dapat
menyebabkan peningkatan laju jatung dan suhu tubuh. Kematian dapat terjadi bila
kehilangan air mencapai 9-12% berat badan. Pada dehidrasi, tubuh tidak hanya
kehilangan air tetapi juga kehilangan elektrolit dan glukosa. Disamping air,
dehidrasi menyebabkan kehilangan elektrolit. Kehilangan natrium dan klorida
dapat mencapai 40-60 mEq/liter, sedangkan kalium dan magnesium 1,5-6 mEq/liter.
Kehilangan elektrolit akan mempercepat timbulnya gejala dan gangguan fungsi
organ-organ.
Dehidrasi akan mengakibatkan
menurunnya volume plasma sehingga menimbulkan gangguan termoregulasi dan kerja
jantung. Selanjutnya akan mempengaruhi kinerja tubuh secara keseluruhan.
Dehidrasi juga menurunkan kemampuan sistem kardiovaskuler dan pengaturan suhu
tubuh. Dehidrasi berat menyebabkan kerja otak terganggu sehingga cenderung
mengalami halusinasi.
Rehidrasi dengan memberikan air
minum biasa justru akan sangat berbahaya pada kehilangan elektrolit. Air minum
biasa menyebabkan CES menjadi hipoosmolar sehingga air masuk ke CIS. Minum air
biasa terus menerus semakin meningkatkan hipoosmolaritas CES dan menambah volume
air yang masuk ke CIS sehingga mengakibatkan pembengkakan sel yang dapat
mengakibatkan kematian. Oleh sebab itu komposisi cairan rehidrasi harus
mengandung elektrolit dan glukosa dalam jumlah yang cukup untuk mengganti yang
hilang.
E. Pengaturan keseimbangan
cairan tubuh dan elektrolit
Jumlah berbagi jenis garam di dalam
tubuh hendaknya dijaga dalam keadaan konstan. Bila terjadi kehilangan garam
dari tubuh, maka harus diganti dari sumber diluar tubuh, yaitu dari makanan dan
minuman. Tubuh mempunyai suatu mekanisme yang mengatur agar konsentrasi semua
mineral berada dalam batas-batas normal.
Pengaturan air dari tubuh diatur
oleh ginjal dan otak. Hipotalamus mengatur konsentrasi garam di dalam darah,
merangsang kelenjar pituitari mengeluarkan hormon antidiuretika (ADH), Ginjal
mengontrol volume cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan garam dan
mengontrol osmolaritas cairan ekstrasel dengan mempertahankan keseimbangan
cairan. Ginjal mempertahankan keseimbangan ini dengan mengatur keluaran garam
dan air dalam urine sesuai kebutuhan untuk mengkompensasi asupan dan kehilangan
abnormal dari air dan garam tersebut.
Pengaturan keseimbangan air oleh
ginjal dan otak disajikan pada diagram berikut :
Ginjal
Otak
ADH dikeluarkan bilamana konsentrasi
garam tubuh terlalu tinggi, atau bila volume darah atau tekanan darah terlalu
rendah. ADH merangsang ginjal untuk menahan atau menyerap air kembali dan
mengedarkannya kembali kedalam tubuh. Jadi, semakin banyak air dibutuhkan
tubuh, semakin sedikit yang dikeluarkan. Bila terlalu banyak air keluar dari
tubuh, volume darah dan tekanan darah akan turun. Sel-sel ginjal akan
mengeluarkan enzim renin. Renin mengaktifkan protein di dalam darah yang
dinamakan angiotensin kedalam bentuk aktifnya angiotensin. Angiotensin akan
mengecilkan diameter pembuluh darah sehingga tekanan darah akan naik. Disamping
itu angiotensin mengatur pengeluaran hormon aldosteron dari kelenjar adrenalin.
Aldosteron akan mempengaruhi ginjal untuk menahan natrium dan air. Akibatnya
bila dibutuhkan lebih banyak air, akan lebih sedikit air dikeluarkan tubuh.
F. Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Kebutuhan Cairan Dan Elektrolit
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi
kebutuhan cairan dan elektrolit diantaranya adalah :
1. Usia
Variasi usia berkaitan dengan luas permukaan tubuh,
metabolisme yang diperlukan dan berat badan. selain itu sesuai aturan, air
tubuh menurun dengan peningkatan usia. Berikut akan disajikan dalam tabel
perubahan pada air tubuh total sesuai usia.
2. Jenis kelamin
Wanita mempunyai air tubuh yang kurang secara proporsional,
karena lebih banyak mengandung lemak tubuh
3. Sel-sel lemak
Mengandung sedikit air, sehingga air
tubuh menurun dengan peningkatan lemak tubuh
4. Stres
Stres dapat menimbulkan peningkatan metabolisme sel,
konsentrasi darah dan glikolisis otot, mekanisme ini dapat menimbulkan retensi
sodium dan air. Proses ini dapat meningkatkan produksi ADH dan menurunkan
produksi urine
5.
Sakit
Keadaan
pembedahan, trauma jaringan, kelainan ginjal dan jantung, gangguan hormon akan
mengganggu keseimbangan cairan
6. Temperatur lingkungan
Panas yang berlebihan menyebabkan berkeringat. Seseorang
dapat kehilangan NaCl melalui keringat sebanyak 15-30 g/hari
7. Diet
Pada saat tubuh kekurangan nutrisi,
tubuh akan memecah cadangan energi, proses ini akan menimbulkan pergerakan
cairan dari interstisial ke intraselular.
Hormon Yang Terkait Keseimbangan Cairan Dan
Elektrolit
1. ADH
Hormon
utama yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit adalah ADH dan
Aldosteron. Keadaan kekurangan air akan meningkatkan osmolitas darah dan
keadaan ini akan direspon oleh kelenjar hipofisis dengan melepaskan ADH. ADH
akan menurunkan produksi urine dengan cara meningkatkan reabsorpsi air oleh
tubulus ginjal. Selama periode sementara kekurangan volume cairan, seperti yang
terjadi pada muntah dan diare atau perdarahan, jumlah ADH di dalam darah
meningkat. Akibatnya, reabsorpsi air oleh tubulus ginjal meningkat
dan air akan dikembalikan ke dalam volume darah sirkulasi. Dengan demikian
haluaran urine akan berkurang sebagai respon terhadap kerja Hormon ADH ini.
2. ALDOSTERON
Aldosteron
merupakan suatu mineralokortikoid yang diproduksi oleh korteks adrenal.
Aldosteron mengatur
keseimbangan natrium dan kalium dengan menyebabkan tubulus ginjal
mengekskresi kalium
dan mengabsorpsi natrium. Akibatnya, air juga akan direabsorpsi dan
dikembalikan ke volume
darah. Kekurangan volume cairan, misalnya karena perdarahan atau
kehilangan cairan
pencernaan dapat mensekresi aldosteron ke dalam darah.
3. GLUKOKORTIKOID
Hormon
kelas tiga, Glukokortikoid, memengaruhi keseimbangan air dan elektrolit.
Sekresi hormon glukokortikoid secara normal tidak
menyebabkan ketidakseimbangan cairan utama, namun kelebihan hormon
di dalam sirkulasi dapat menyebabkan tubuh menahan natrium dan air yang kita
kenal sebagai sindrom Cushing.
KESEIMBANGAN
ASAM BASA TUBUH
Sistem Buffer Tubuh
Ø Sistem
buffer ECF → asam karbonat-bikarbonat (NaHCO3 dan H2CO3)
Ø Sistem
buffer ICF → fosfat monosodium-disodium (Na2HPO4 dan NaH2PO4)
Ø Sistem
buffer ICF eritrosit → oksihemoglobin-hemoglobin (HbO2- dan HHb)
Ø Sistem
buffer ICF dan ECF → protein (Pr- dan HPr)
Ø Pertahanan
pH darah normal tercapai melalui kerja gabungan dari buffer darah, paru dan
ginjal
Ø Persamaan
Handerson Hasselbach:
20 [HCO3-]
pH = 6,1 + log ---------------------
1PaCO2
pH = 6,1 + log ---------------------
1PaCO2
Ø [HCO3-]
→ faktor metabolik, dikendalikan ginjal
Ø PaCO2
→ faktor respiratorik, dikendalikan paru
Ø pH
6,1 → efek buffer dari asam karbonat-bikarbonat
Ø Selama
perbandingan [HCO3-] : PaCO2 = 20 : 1 → pH darah selalu = 6,1 + 1,3 = 7,4
Gangguan Asam Basa darah
·
Asidosis metabolik [HCO3-] ↓
dikompensasi dengan PaCO2 ↓
·
Alkalosis metabolik [HCO3-] ↑
dikompensasi dengan PaCO2↑
·
Asidosis respiratorik PaCO2↑
dikompensasi dengan [HCO3-] ↑
·
Alkalosis respiratorik PaCO2↓
dikompensasi dengan [HCO3-] ↓
Asidosis Metabolik
v Ciri:
[HCO3-] ↓ <22mEq/L dan pH <7,35 → kompensasi dengan hiperventilasi
PaCO2↓, kompensasi akhir ginjal → ekskresi H+, sebagai NH4+ atau H3PO4
v Penyebab:
Penambahan asam terfiksasi: ketoasidosis diabetik, asidosis laktat (henti
jantung atau syok), overdosis aspirin Gagal ginjal mengekskresi beban asam
Hilangnya HCO3- basa → diare
v Gejala
Asidosis Metabolik Tidak jelas dan asimptomatis Kardiovaskuler: disritmia,
penurunan kontraksi jantung, vasodilatasi perifer dan serebral Neurologis:
letargi, stupor, koma Pernafasan: hiperventilasi (Kussmal) Perubahan fungsi
tulang: osteodistrofi ginjal (dewasa) dan retardasi pada anak
v Penatalaksanaan
Asidosis Metabolik Tujuan: meningkatkan pH darah hingga ke kadar aman (7,20
hingga 7,25) dan mengobati penyakit dasar NaHCO3 dapat digunakan bila pH
<7,2 atau [HCO3-] <15mEq/L
v Risiko
NaHCO3 yang berlebihan: penekanan pusat nafas, alkalosis respiratorik, hipoksia
jaringan, alkalosis metabolik, hipokalsemia, kejang, tetani Alkalosis Metabolik
Ciri: [HCO3-] ↑ >26mEq/L dan pH >;7,45 → kompensasi dengan hipoventilasi
PaCO2↑, kompensasi akhir oleh ginjal → ekskresi [HCO3-] yang berlebihan
Penyebab:
o
Hilangnya H+ (muntah, diuretik,
perpindahan H+dari ECF ke ICF pada hipokalemia)
o
Retensi [HCO3-] (asidosis metabolik
pasca hiperkapnia)
Gejala Alkalosis Metabolik
§ Gejala
dan tanda tidak spesifik
§ Kejang
dan kelemahan otot → akibat hipokalemia dan dehidrasi
§ Disritmia
jantung, kelainan EKG → hipokalemi
§ Parestesia,
kejang otot → hipokalsemia
Penatalaksanaan Alkalosis Metabolik
ü Tujuan:
menghilangkan penyakit dasar
ü Pemberian
KCl secara IV dalam salin 0,9% → (diberikan jika Cl- urine <10mEq/L)
menghilangkan rangsangan aldosteron → ekskresi NaHCO3 Jika Cl- urine
>20mEq/L → disebabkan aldosteron yang berlebihan → tidak dapat diobati
dengan salin IV, tapi dengan diuretik
Asidosis Respiratorik
Ø Ciri:
PaCO2 ↑ >45mmHg dan pH <7,35 → kompensasi ginjal retensi dan peningkatan
[HCO3-]
Ø Penyebab:
hipoventilasi (retensi CO2), inhibisi pusat nafas (overdosis sedatif, henti
jantung), penyakit dinding dada dan otot nafas (fraktur costae, miastemia
gravis), gangguan pertukaran gas (COPD), obstruksi jalan nafas atas
Ø Gejala
Asidosis Respiratorik Tidak spesifik Hipoksemia (dominan) → asidosis
respiratorik akut akibat obstruksi nafas Somnolen progresif, koma → asidosis
respiratorik kronis Vasodilatasi serebral → meningkatkan ICV → papiledema dan
pusing
Ø Penatalaksanaan
Asidosis Respiratorik Pemulihan ventilasi yang efektif sesegera mungkin →
pemberian O2 dan mengobati penyebab penyakit dasar PaO2 harus ditingkatkan
>60mmHg dan pH >7,2
Alkalosis Respiratorik
·
Ciri: penurunan PaCO2 <35mmHg dan
peningkatan pH serum >7,45 → kompensasi ginjal meningkatkan ekskresi HCO3-
·
Penyebab: hiperventilasi (tersering
psikogenik karena stress dan kecemasan), hipoksemia (pneumonia, gagal jantung
kongestif, hipermetabolik (demam), stroke, stadium dini keracunan aspirin,
septikemia
Gejala Alkalosis Respiratorik
o
Hiperventilasi (kadar gas, frekuensi
nafas)
o
Menguap, mendesak, merasa sulit bernafas
o
Kecemasan: mulut kering, palpitasi,
keletihan, telapak tangan dan kaki dingin dan berkeringat
o
Parastesia, otot berkedut, tetani
o
Vasokontriksi serebal → hipoksia
cerebral → kepala dingin dan sulit konsentrasi
Penatalaksanaan Alkalosis Respiratorik
§ Menghilangkan
penyebab dasar
§ Kecemasan
dapat dihilangkan dengan pernafasan kantong kertas yang dipegang erat disekitar
hidung dan mulut dapat memulihkan serangan akut
§ Hiperventilasi
mekanik → diatasi dengan menurangi ventilasi dalam satu menit, menambah ruang
hampa udara atau menghirup 3% CO2 dalam waktu singkat
TANDA DAN GEJALA GANGGUAN CAIRAN ELEKTROLIT
Gangguan Keseimbangan Cairan dan eletrolit
tubuh
1.
Dehidrasi : adalah gangguan
dalam keseimbangan cairan atau air pada tubuh. Hal ini terjadi karena pengeluaran air
lebih banyak daripada pemasukan (misalnya minum). Gangguan kehilangan cairan
tubuh ini disertai dengan gangguan keseimbangan zat elektrolit tubuh.
Dehidarasi
terjadi karena
·
kekurangan air;
·
kekurangan natrium dan air.
Dehidrasi
terbagi dalam tiga jenis berdasarkan penurunan berat badan, yaitu
Dehidrasi
ringan (jika penurunan cairan tubuh 5 persen dari berat badan)
Dehidrasi
sedang (jika penurunan cairan tubuh antara 5-10 persen dari berat badan)
Dehidrasi
berat (jika penurunan cairan tubuh lebih dari 10 persen dari berat badan).
Selain
mengganggu keseimbangan tubuh, pada tingkat yang sudah sangat berat, dehidrasi
bisa pula berujung pada penurunan kesadaran, koma, bahkan bisa saja meninggal
dunia. Dan Jangan coba-coba menurunkan berat badan dengan cara dehidrasi karena
anda akan menanggung resiko gangguan pada ginjal anda.
Penyebab
terserang dehidrasi diantaranya intens, muntah, demam, atau berkeringat yang
berlebihan.
Syok
hipovolemik disebut juga syok preload yang ditamdai dengan menurunnya
volume intravaskuler oleh karena perdarahan
Gangguan
Keseimbangan Elektrolit
1. Hiponatremia
Definisi : kadar Na+ serum di bawah normal
Causa : CHF, gangguan ginjal dan sindroma nefrotik,
hipotiroid, penyakit Addison
Tanda dan Gejala :
- Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam beberapa jam, pasien
mungkin mual, muntah, sakit kepala dan keram otot.
- Jika Na plasma turun 10 mEq/L dalam satu jam, bisa terjadi
sakit kepala hebat, letargi, kejang, disorientasi dan koma.
Mungkin pasien memiliki tanda-tanda penyakit dasar (seperti
gagal jantung, penyakit Addison).
Jika hiponatremia terjadi sekunder akibat kehilangan cairan,
mungkin ada tanda-tanda syok seperti hipotensi dan takikardi.
2. Hipernatremia
Definisi : Na+ serum di atas normal (>145 mEq/L)
Causa : Kehilangan Na+ melalui ginjal misalnya pada terapi
diuretik, diuresis osmotik, diabetes insipidus, sekrosis tubulus akut, uropati
pasca obstruksi, nefropati hiperkalsemik; atau karena hiperalimentasi dan
pemberian cairan hipertonik lain.
Tanda dan Gejala :
Iritabilitas otot, bingung, ataksia, tremor, kejang dan koma
yang sekunder terhadap hipernatremia.
3. Hipokalemia
Definisi : kadar K+ serum di bawah normal
Etiologi
Kehilangan K+ melalui saluran cerna (misalnya pada
muntah-muntah, sedot nasogastrik, diare, sindrom malabsorpsi, penyalahgunaan
pencahar)
Diuretik
Asupan K+ yang tidak cukup dari diet
Ekskresi berlebihan melalui ginjal
Maldistribusi K+
Hiperaldosteron
Tanda dan Gejala :
Lemah (terutama otot-otot proksimal), mungkin arefleksia, hipotensi
ortostatik, penurunan motilitas saluran cerna yang menyebabkan ileus.
Hiperpolarisasi myokard terjadi pada hipokalemia dan dapat menyebabkan denyut
ektopik ventrikel, reentry phenomena, dan kelainan konduksi. EKG sering
memperlihatkan gelombang T datar, gelombang U, dan depresi segmen ST.
4. Hiperkalemia
Definisi : kadar K+ serum di atas normal (> 5,5 mEq/L)
Etiologi :
Ekskresi renal tidak adekuat; misalnya pada gagal ginjal
akut atau kronik, diuretik hemat kalium, penghambat ACE.
beban kalium dari nekrosis sel yang masif yang disebabkan
trauma (crush injuries), pembedahan mayor, luka bakar, emboli arteri akut,
hemolisis, perdarahan saluran cerna atau rhabdomyolisis. Sumber eksogen
meliputi suplementasi kalium dan pengganti garam, transfusi darah dan penisilin
dosis tinggi juga harus dipikirkan.
Perpindahan dari intra ke ekstraseluler; misalnya pada
asidosis, digitalisasi, defisiensi insulin atau peningkatan cepat dari
osmolalitas darah.
Insufisiensi adrenal
Pseudohiperkalemia. Sekunder terhadap
hemolisis sampel darah atau pemasangan torniket terlalu lama
-
Hipoaldosteron
Tanda dan Gejala :
-
Efek terpenting adalah perubahan
eksitabilitas jantung. EKG memperlihatkan perubahan-perubahan sekuensial
seiring dengan peninggian kalium serum. Pada permulaan, terlihat gelombang T
runcing (K+ > 6,5 mEq/L). Ini disusul dengan interval PR memanjang,
amplitudo gelombang P mengecil, kompleks QRS melebar (K+ = 7 sampai 8 mEq/L).
Akhirnya interval QT memanjang dan menjurus ke pola sine-wave. Fibrilasi
ventrikel dan asistole cenderung terjadi pada K+ > 10 mEq/L. Temuan-temuan
lain meliputi parestesi, kelemahan, arefleksia dan paralisis ascenden.
ASKEP PADA MASALAH KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT
A.
Pengkajian Keperawatan
Ø
Riwayat
Keperawatan. Pengakajian keperawatan pada masalah kebutuhan cairan dan
elektrolit meliputi jumlah asupan cairan yang dapat diukur melalui jumlah
pemasukan secara oral, parenteral atau enteral. Jumlah pengeluaran dapat diukur
melalui jumlah produksi urine, feses, muntah atau pengeluaran lainnya, status
kehilangan/kelebihan cairan dan perubahan berat badan yang dapat menentukan
tingkat dehidrasi.
Ø
Faktor yang
Berhubungan. Meliputi factor-faktor yang memepengaruhi masalah kenutuhan cairan
seperti sakit, diet, lingkungan, usia perkembangan dan penggunaan obat.
Ø
Pengkajian
Fisik. Meliputi system yang berhubungan dengan masalah cairan dan elektrolit
seperti system integument (status turgor kulit dan edema), system
kardiovaskular (adanya distensi vena jugularis, tekanan darah dan bunyi
jantung), system penglihatan (kondisi dan cairan mata), system neurologi
(gangguan sensorik/motorik, status kesadaran dan adanya refleksi) dan system
gastrointestinal (keadaan mukosa mulut, lidah dan bising usus).
Ø Pemeriksaan laboratorium atau diagnostik lainnya. Dapat
berupa pemeriksaan kadar elektrolit (natrium, kalium, klorida, berat jenis
urine, analisis gas darah dan lain-lain).
B.
Diagnosis Keperawatan
1.
Kekurangan
volume cairan berhubungan dengan:
Pengeluraran urine secara berlebihan akibat penyakit diabetes mellitus atau lainnya; peingkatan permeabilitas kapiler dan hilangnya evaporasi pada pasien luka bakar atau meningkatnya kecepatan metabolism; pengeluaran cairan secara berlebihan; asupan cairan yang tidak adekuat serta pendarahan.
Pengeluraran urine secara berlebihan akibat penyakit diabetes mellitus atau lainnya; peingkatan permeabilitas kapiler dan hilangnya evaporasi pada pasien luka bakar atau meningkatnya kecepatan metabolism; pengeluaran cairan secara berlebihan; asupan cairan yang tidak adekuat serta pendarahan.
2.
Kelebihan volume
cairan berhubungan dengan:
Penurunan mekanisme regulator akibat kelaiann pada ginjal; penurunan curah jantung akibat penyakit jantung; gangguan aliran balik vena akibat penyakit vascular perifer atau thrombus; retensi natrium dan air akibat terapi kostikosteroid serta tekanan osmotic koloid yang rendah.
Penurunan mekanisme regulator akibat kelaiann pada ginjal; penurunan curah jantung akibat penyakit jantung; gangguan aliran balik vena akibat penyakit vascular perifer atau thrombus; retensi natrium dan air akibat terapi kostikosteroid serta tekanan osmotic koloid yang rendah.
C.
Perencanaan Keperawatan
Tujuan:
mempertahankan volume cairan dalam keadaan seimbang.
Rencana tindakan:
Rencana tindakan:
1.
Monitor jumlah
asupan dan pengeluaran cairan serta perubahan status keseimbangan cairan.
2.
Pertahankan
keseimbangan cairan. Bila kekurangan volume cairan lakukan:
·
Rehidrasi oral
atau parenteral sesuia dengan kebutuhan
·
Monitor kadar
elektrolit darah seperti urea nitrogen darah, urine, serum, osmolaritas,
kreatinin, hematokrit dan Hb.
·
Hilangkan
factor penyebab kekurangan volume cairan, seperti muntah, dengan cara
memberikan minum secara sedikit-sedikit tapi sering atau dengan memberikan teh.
Bila kelebihan
volume cairan, lakukan:
·
Pengurangan
asupan garam
·
Hilangkan
factor penyebab kelebihan volume cairan dengan cara melihat kondidi penyakit
pasien terlebih dahul. Apabila akibat bendungan aliran pembuluh darah, maka
anjurkan pasien untuk istirahat dengan posisi telentang, posisi kaki
ditinggikan, atau tinggikan ekstremitas yang mengalami edema diatas posisi
jantung, kecuali ada kontra indikasi.
·
Kurangi
konstriksi pembuluh darah seperti pada penggunaan kaos kaki yang ketat.
3.
Lakukan
mobilisasi melalui pengaturan posisi
4.
Anjurkan cara
mempertahankan keseimbangan cairan.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar